Membersihkan Rumah Penderita Hoarding Disorder

Jika selama ini tidak ada yang menulis pengalaman tentang kerugian mengikuti kegiatan bank sampah (kegiatan menjual sampah non organik menjadi uang), maka hari ini aku akan menceritakan semuanya padamu.

Bermula dari adik-adikku yang pulang ke rumah mama di Sidoarjo pada bulan September 2021 lalu, mereka kaget mendapati rumah yang dulu mereka tinggali menjadi seperti sarang pemulung. Kondisi ini pun semakin menyayat hari ketika rumah besar yang memiliki 2 lantai itu sangat berantakan, persis seperti kehidupan seorang hoarder.

Lihat rumahku… penuh dengan sampah.

Mamaku Mungkin Mengidap Hoarding Disorder

Semasa muda, mamaku memang suka sekali menyimpan barang-barang dengan harapan nanti anak-anaknya suatu saat butuh, bisa digunakan lagi, dll. Padahal tidak semua anak-anaknya nanti membutuhkan. Hal itu ternyata sudah menjadi kebiasaan turun termurun dikeluarga mamaku, mulai dari orangtua hingga adik-adiknya. Akibatnya, rumah sebesar apapun akan menjadi penuh dan sesak dengan barang-barang yang sebenarnya tidak digunakan lagi.

Hoarding disorder adalah perilaku menimbun barang-barang yang tidak terpakai karena barang-barang tersebut dianggap akan berguna di kemudian hari, bersejarah, dan memiliki nilai sentimental.

Ciri-Ciri Hoarding Disorder:

  • Sulit untuk membuang barang yang sebenarnya tidak ia butuhkan.
  • Merasa resah saat membuang barang, bahkan merasa marah/tersinggung bila timbunan barang miliknya dibersihkan atau dibuang.
  • Curiga jika orang lain menyentuh barang miliknya.
  • Terus menambah atau membeli barang dan menyimpan barang bekas yang tidak ia butuhkan, meskipun tidak ada lagi ruang tersisa di dalam rumah.
  • Cenderung perfeksionis, sulit memutuskan sesuatu, kesulitan dalam mengorganisasi dan merencanakan hal, sering menghindar, dan menunda-nunda.

Semua ciri-ciri pada penjelasan di atas ada pada mamaku.

Penyebab hoarding disorder pada mama mungkin karena sudah berbakat jorok sejak kecil juga karena mengalami kesedihan yang mendalam karena kehilangan orang-orang yang dicintainya. Selama ini papaku yang rajin bersih-bersih rumah, sedangkan mama hanya menyapu sekedarnya. Standar kebersihan mama itu sangat rendah dibanding dengan orang lain pada umumnya.  Sejak papaku meninggal dan anak-anaknya pergi merantau ke luar kota, mungkin mama menjadi kesepian dan pelariannya ya dengan cara menyimpan barang-barang yang memiliki memori dan mempunyai nilai sejarah baginya.

Berikut adalah foto yang dikirim adikku mengenai kondisi rumah.

Jika selama ini aku mengetahui tentang berita pengidap hoarding disorder hanya dari televisi, maka betapa kagetnya ketika mendapati langsung kondisi orang yang kami cintai ternyata juga mengalami hal serupa.

Kegiatan Bank Sampah

Di lingkungan komplek rumah mamaku, beliau ditunjuk menjadi ketua Bank Sampah yang mengelola keuangan hasil penjualan sampah ke pengepul. Jadi beberapa warga yang memiliki sampah non organik seperti botol plastik, kardus, koran, dll itu dikumpulkan di pos balai RW untuk kemudian ditimbang, dicatat lalu dijual ke pengepul. Syarat agar sampah itu bernilai ya harus dikumpulkan dulu hingga banyak, minimal 2kg. Ketika warga menjual sampahnya, mereka paling hanya mendapatnya Rp2000 – Rp5000 rupiah per transaksi.

Keuntungan yang tidak sepadan dengan kondisi rumah yang penuh dengan sampah (otomatis kan sampah ditimbun dulu agar ketika dijual bisa mendapat untung banyak). Kami sebagai anak-anaknya mama sangat keberatan jika mama berkegiatan di bank sampah, apalagi menjadi ketua dan mengurus keuangannya.

Mama sudah lansia, usianya 60 tahun. Fisik dan daya ingatnya pun sudah menurun.

Aku nggak habis pikir sama tetangga-tetangganya yang malah menyerahkan tanggung jawab sebesar itu kepada mamaku. Bagaimana jika mama lupa menaruh buku kas tabungan sampah? Bagaimana jika mama tidak sadar telah memakai uang tabungan bank sampah untuk kebutuhan pribadi?

Memang tidak semua warga suka dengan kegiatan bank sampah ini, kami pun juga begitu. Tujuannya sih baik untuk mengelola sampah menjadi sesuatu yang bernilai, supaya mamaku ada kegiatan, tetapi setelah ditelaah modhorotnya lebih banyak daripada manfaatnya.

Hoarding Disorder + Pemulung

Setelah tahu mamaku ada bakat menjadi hoarder, eh malah ketambahan berprofesi sebagai ketua bank sampah dan mirip seperti pemulung yang mengumpulkan sampah ya sudah makin parah lah kesehatan mental mamaku. Rumah menjadi persis sarang pemulung. Banyak sampah berserakan di halaman rumah yang ketika barang-barang tersebut akan dibuang, mamaku akan histeris dan ngamuk.

Aku bukannya merendahkan profesi pemulung, tetapi dalam kondisi mamaku seperti ini maka akan sangat tidak setuju jika seharusnya mama yang sudah lansia hidup enak bersama anak-cucunya malah melakukan kegiatan yang memperburuk kondisi mentalnya.

Oh jadi ini efek samping mengikuti bank sampah? Mengajarkan untuk jadi jorok dan mencari bakat pemulung?

Bank sampah menurutku kegiatan yang kurang berhasil karena kurangnya dukungan. Seharusnya tidak dikelola oleh perseorangan, tetapi harus didanai pemerintah. Orang yang mengelola harus diberikan gaji yang sesuai untuk mengelola sampah rumah tangga. Minimal membuatkan depo pengumpulan sampah yang terstruktur seperti di negara maju, bukan kerja sukarela mengandalkan ibu-ibu lansia karena dianggap menganggur.

Kami sebagai anak-anaknya sangat sedih, rumah besar dan bagus yang dibangun alm papa menjadi kotor, jorok, berantakan penuh dengan barang-barang tidak penting.

Membersihkan Rumah Hoarder

Berikut adalah foto-foto dan video before dan after pembersihan rumah yang dilakukan oleh adik-adikku dan bantuan teman-temannya. Karena jujur saja dalam membersikan rumah seorang pengidap hoarding disorder itu tidak mudah.

Ketika barang-barang mau dibuang, ada negosiasi yang alot dengan mama. Tujuannya bersih-bersih dengan si pemilik barangnya sendiri agar mama sadar bahwa barang-barang tersebut tidak penting.

Tetapi tetap saja dalam proses ‘bersih-bersih’nya versi mamaku adalah barang tetap disimpan dan rumah cuma dirapihkan saja. Kalau begitu bagaimana barang di rumah bisa berkurang?

Mama tidak suka barang-barangnya dibuang. Reaksinya ya marah, histeris dan menangis. Tetapi adik-adikku sudah pada ujung kesabarannya. Sehingga barang-barang lapuk yang memang tidak bernilai lagi ya wajib dibuang.

Membersihkan Rumah Pengidap Hoarding Disorder

Video Befor After Proses Membersihkan Rumah Hoarder

Foto-foto Setelah Rumah Dibersihkan

kamar setelah dibersihkan
kamar setelah dibersihkan
ruang keluarga setelah dibersihkan
ruang keluarga setelah dibersihkan
musholla setelah dibersihkan
musholla setelah dibersihkan

Kesimpulan:

Mamaku tidak mau dibawa ke Psikolog atau ke Psikiater, karena mama merasa tidak sakit. Padahal sudah jelas-jelas mama butuh professional help. Kadang aku suka heran sama mama, kalau nyuruh sholat dan ngaji paling getol tetapi giliran disuruh membersihkan rumah alasannya capek. Tapi nggak capek kalau diajak pergi rekreasi jalan-jalan seharian. Padahal kebersihan itu sebagian dari iman, ya kan? Kok bisa ya mama nyaman sholat dalam keadaan rumah berantakan dan kotor?

Kami sudah malas mengurusi rumah mama lagi, karena mama sudah tidak mau diusik tempat tinggalnya. Kami cuma tutup mata saja ketika melihat barang-barang di rumah yang seharusnya dibuang tetapi sama mama masih disimpan. Kami sudah malas berkonflik sama mama, tidak mau bertengkar cuma gara-gara seonggok benda mati.

Mama pun ketika diajak pindah ke rumah kami di Tangerng juga tidak mau. Padahal apa enaknya tinggal sendirian di rumah besar? (angker pula, Btw, rumah kami itu banyak dihuni makhluk astral). Semua dilakukan sendiri oleh lansia, tanpa ART dan jauh dari sanak saudara. Kami pun nggak bisa sering-sering pulang ke Sidoarjo, paling setahun 2x saat libur sekolah.

Kami akhirnya memutuskan, biarkan mama hidup dengan dunianya seperti itu. Kami sudah nggak tau harus bagaimana lagi. Yang pasti untuk saat ini rumah mama sudah lumayan rapi dan bersih, semoga hal itu bertahan lama sampai kedatangan kami lagi ke sana.

Buat teman-teman yang membaca, mungkin punya pengalaman serupa? Jika ada saran, seharusnya apa yang sebaiknya aku lakukan menghadapi masalah ini?

6 comments
  1. Kadang aku suka nonton mbak acara hoarder atau semacamnya. Memang umumnya hoarder punya masalah psikologis dan merasa ‘ditinggalkan’. Memang harus disupport oleh keluarga dan orang terdekat. Senang melihat foto afternya. Semoga mama mbak sehat dan lebih positif

  2. Keren mbak. Ketegasan yang jarang dipunyai orang lain, apalagi ini berhubungan dengan mama kandung sendiri.
    So far, di rumah, ibu sendiri sudah bisa berubah. Jarang mau menyimpan barang yg tdk perlu. Tantangannya justru dr diri sendiri. Demi ingin mengumpulkan sampah plastik, berat hati banget membuang ‘koleksi’sampah plastik ini. Terakhir bebersih, ‘cuma’ tega membuang sekitar tiga plastik besar saja *tutupmuka

  3. Turut prihatin dengan kondisi mamah ya kak. Duh cerita ini agak menampar saya, kebetulan saya ini tipikal orang yg suka menyimpan sesuatu, buku saya dari tk, dres” dan baju dari saya balitaa masih saya simpan semua. Untung kebalikannya ibu saya hobi beres”, jadi space dan kebersihan tetap terjaga. Semoga mamahnya segera sembuh dan mau mengikuti konsultasi dengan ahli agar keadannya membaik ya kak.

  4. Aku juga bakalan sedih banget waktu berpisah dengan barang-barang yang dikoleksi.
    Makaya momen paling pas beberes rumah itu adalah saat pindah rumah.
    Semoga Mama bahagia, kak.. In syaa Allah tugas bebersihnya dibantu ananda-ananda putra dan putri mamah.
    Salam hangat untuk Mama.

  5. Wahhh mirip banget sama ibuku juga seperti itu, namun karena jarang dipakai malah dimanfaatkan oleh ayahku untuk membuat hal lain yang bisa dimanfaatkan saat itu juga.. Jadi tidak terbuang sia-siang, ibu dan ayah kolaborasi yang keren banget sih menurutku. Hampir seisi rumah hasil karya mereka hhi

  6. Wah, saya kok baru tahu istihal hoarder disorder ya mbak. Hihi
    Ciri-ciri juga mirip ibu menimbun barang lama. Cuma ibu saya bersihkan banget orangnya. Justru saya yang agak malas beberes rumah hanya karena alasan sibuk. Wkwkwk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *