Iseng Nyari Batu Buat Life Path 3, Malah Berakhir Jadi Kolektor Gelang Kristal

Awalnya aku tidak berencana mengoleksi gelang batu alam. Semua dimulai saat tidak sengaja melihat video di sosmed tentang gemstone dengan life path. Kebetulan life path aku 3, dan kristal yang cocok adalah Citrine. Batu ini dipercaya dapat meningkatkan kreativitas yang sangat pas dengan pekerjaanku sekaligus menarik uang datang.

Golden Citrine si Pembawa Hoki

Setelah melihat foto-fotonya, warna emas dari Citrine ini langsung menarik perhatian. Aku lalu mencari penjual gelang batu di e-commerce dan menemukan gelang Citrine berkualitas dengan harga terjangkau, di bawah Rp150.000. Begitu barangnya datang, aku langsung memberikan afirmasi positif agar energinya membantu aku lebih fokus dan kreatif saat menulis artikel maupun mendesain.

Efek sugestinya terasa dalam seminggu. Karena tertarik lagi, aku memutuskan untuk membeli beberapa gelang batu alam lain. Kali ini aku membeli Lapis Lazuli dan Rose Quartz.

Si Biru Elektrik Lapis Lazuli

Saat membeli Lapis Lazuli, aku sempat sedikit mikir karena harganya mencapai Rp155.000 untuk kualitas top quality. Sempat ada sedikit penyesalan dan ragu apakah gelang ini worth it atau tidak. Tapi rasa khawatir itu terbayarkan. Komponen mineralnya, seperti lazurite, calcite, dan pyrite terlihat jelas. Jika dilihat dari jauh, tampilannya mirip planet bumi.

Batu Lapis Lazuli memiliki sejarah yang unik. Pada zaman dahulu, batu ini digunakan sebagai pewarna biru alami untuk eyeshadow Ratu Cleopatra dan topeng kematian Firaun Raja Tutankhamun. Pigmen alaminya juga digunakan oleh pelukis legendaris; Vincent van Gogh menggunakannya untuk warna langit malam dalam The Starry Night (1889), dan Johannes Vermeer memakainya untuk warna penutup kepala dalam lukisan Girl with a Pearl Earring (1665).

Untuk Rose Quartz, aku mendapatkan tipe standar dengan warna merah muda cerah, bukan tipe kualitas tinggi yang bening transparan. Begitu pula dengan Amethyst (kecubung) yang aku punya; warnanya didominasi ungu muda dengan sedikit corak putih, berbeda dengan Amethyst kualitas tinggi yang biasanya jernih. Ada yang bilang namanya Dream Amethyst, perpaduan dari ungu ametyst dan white quartz.

Gelang baru selanjutnya adalah Peridot. Batu ini cukup langka karena jarang ada penjual gelang batu yang memilikinya, terutama untuk ukuran butiran (beads) 8mm. Kalaupun ada, harganya biasanya di atas Rp170.000. Beruntung, aku berhasil mendapatkannya dengan harga Rp100.000. Harganya tergolong murah, semoga saja batu tersebut benar-benar asli.

Ukuran Gelang dan Keaslian Batu

Mengenai spesifikasi, aku selalu memilih ukuran beads 8mm dengan diameter gelang 16cm atau 17cm. Sayangnya, beberapa penjual terkadang mengirimkan ukuran 7mm yang menurutku terlalu kecil di pergelangan tangan. Ada pula beads ukuran 10mm yang menurtku terlalu bulky untuk dipakai di tangan yang kecil.

Ada beberapa jenis batu yang aku yakini keasliannya karena karakteristik fisiknya sulit dipalsukan, seperti Citrine, Lapis Lazuli, Amethyst, Sugilite, Pyrite, dan Peridot.

Sebaliknya, aku agak meragukan keaslian varian seperti Morganite, Cherry Quartz, Blue Topaz, dan Kecubung Wulung. Salah satu penyebabnya karena harganya yang murah banget, cuma Rp 25.000. Batunya mungkin memang batu alam asli dari keluarga chalcedony atau quartz, namun ada kemungkinan telah melalui proses pewarnaan (dyed) agar warnanya menyerupai jenis batu yang diinginkan. Mungkin suatu saat aku akan membahas tentang cara membedakan batu asli dan palsu.

Gelang 7 Chakra dan Manfaatnya

Selain mengoleksi satu jenis batu utuh dalam satu gelang, ada juga varian gelang 7 chakra yang cukup populer dijual oleh penjual gelang batu. Gelang ini menggabungkan tujuh jenis batuan berbeda yang masing-masing mewakili pusat energi (chakra) dalam tubuh manusia. Susunannya biasanya dimulai dari bawah ke atas:

  1. Chakra Dasar (Root Chakra): Menggunakan batu merah seperti Red Jasper atau Garnet. Melambangkan stabilitas, keamanan, dan kekuatan dasar kehidupan. Diyakini membantu meningkatkan rasa percaya diri, keberanian, dan ketahanan dalam menghadapi tantangan.
  2. Chakra Sakral (Sacral Chakra): Menggunakan Carnelian yang berwarna oranye, bermanfaat untuk meningkatkan motivasi, semangat, kreativitas dan emosi.
  3. Chakra Solar Plexus: Menggunakan Citrine berwarna kuning untuk membantu meningkatkan fokus, tekad, optimisme, dan kemampuan mengambil keputusan.
  4. Chakra Jantung (Heart Chakra): Menggunakan Green Aventurine. Melambangkan cinta, kasih sayang, dan empati. Diyakini membantu menciptakan keharmonisan hubungan, ketenangan hati, dan kedamaian.
  5. Chakra Tenggorokan (Throat Chakra): Menggunakan Aquamarine atau Turquoise / batu pirus. Berkaitan dengan komunikasi dan kejujuran. Diyakini membantu meningkatkan kemampuan berbicara, menyampaikan pendapat, dan mengekspresikan diri dengan lebih baik.
  6. Chakra Mata Ketiga (Third Eye Chakra): Menggunakan Lapis Lazuli atau Sodalite. Berhubungan dengan intuisi, wawasan, dan kejernihan pikiran. Diyakini membantu meningkatkan konsentrasi, kebijaksanaan, dan kemampuan memahami situasi secara lebih mendalam.
  7. Chakra Mahkota (Crown Chakra): Menggunakan Amethyst atau Clear Quartz di bagian paling atas untuk koneksi spiritual, kedamaian pikiran dan ketenangan batin.

Menggabungkan ketujuh batu ini dalam satu gelang dipercaya bisa membantu menyelaraskan kembali aliran energi di dalam tubuh yang sedang tidak seimbang.

Koleksi Saat Ini dan Daftar Batu Incaran

Hingga saat ini, koleksiku sudah bertambah dengan beberapa varian lain seperti Pearl, Garnet, Green Aventurine, White Onyx, Black Onyx, dan Amazonite. Ini adalah beberapa koleksi gelang batu yang sudah aku punya:

Meskipun sudah lumayan banyak, daftar gelang yang ingin aku beli selanjutnya masih ada. Aku mengincar Obsidian, Smoky Quartz yang bening dan high quality, Clear Quartz, Fluorite bening yang tidak didominasi oleh warna hijau, serta Malachite. Varian-varian tersebut tentu harganya tidak murah, jadi sepertinya tidak akan aku beli dalam waktu dekat. Untuk bulan ini, aku rasa sudah cukup dulu jajan batunya. Hehe.

Ada banyak yang ingin aku ceritakan, mengenai cara membersihkan batu-batuan natural ini. Bisa menggunakan garam, beras, sinar bulan, pakai asap dari kayu Palo Santo, dsb. Ada tipe batu yang tidak boleh terkena air, terutama yang nama batunya berakhiran “-ite” seperti sodalite, selenite, amazonite, dll. Cara memakai gelang kristal ini, apakah harus di tangan kiri atau di tangan kanan. Tapi itu sudah ranahnya tentang kepercayaan, sebaiknya biar ahlinya saja yang membahasnya.

Hal penting yang perlu diingat adalah jangan sampai kita menggantungkan kepercayaan atau nasib kepada benda, karena hal tersebut bisa jatuh ke arah syirik. Kita cukup memercayai bahwa batu-batuan ini berasal dari alam dan memang memiliki karakteristik energi tertentu yang dapat mendukung proses self healing atau terapi ketenangan. Di luar urusan energi, memakai gelang batu alam ini juga bisa dinikmati murni sebagai aksesori fashion penunjang penampilan sehari-hari karena keunikannya.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *