Siapa yang Sebenarnya Butuh Makan?

“Ternyata menikah itu harus ada adegan masak setiap hari ya? Kirain cuma grepe-grepe dan pelukan aja”.

Itu yang terlintas di pikiranku hingga saat ini. Pekerjaan yang tidak aku sukai tetapi harus dilakukan hanya karena suamiku bukan orang kaya yang mau menghamburkan uang untuk membeli makanan setiap hari atau menyewa asisten rumah tangga.

Yap, memasak! Job desc yang tidak aku kuasai tetapi harus aku lakukan sebagai ibu rumah tangga.

Sebagai terdakwa yang pernah menikah muda, memasak setiap hari bukan suatu pekerjaan yang terlintas di pikiranku ketika menikah. Selama pacaran, kami tidak pernah membahasnya. Seakan-akan itu sudah jadi kodrat istri setelah menikah apalagi ketika memilih menjadi ibu rumah tangga. Karena dia tipe yang suka masakan rumahan. Ibunya suka masak, adiknya suka masak. Aku terjebak di situasi yang harus ikut melakukan hal itu juga.

Yup, kesalahan pertama itu. Kami tidak pernah membicarakannya. Padahal selama aku hidup, aku tidak pernah suka membantu pekerjaan mamaku untuk memasak. Pernah sih mencoba main masak-masakan bersama teman SD, tapi kan itu yang dimasak tanah dan daun-daunan. Perempuan yang cuma bisa memegang pena ini dipercaya untuk memasak untuk anggota keluarga. Apakah dia tidak sadar akan resiko mati keracunan?

Di sisi lain, setelah menikah ya aku berfikir akan terus memakai pembantu untuk pekerjaan domestik termasuk memasak. Aku hanya akan fokus untuk mengurusi anak. Nyatanya! Suamiku tidak bisa memberi jatah lebih uang untuk sewa pembantu. Aku bisa apa? Bisa gila! Mengurus dua anak sendiri dan pekerjaan domestik.

Masakan Dari Ipar dan Mertua

Dulu ketika mertua tinggal di rumahku selama beberapa bulan, hampir setiap hari beliau masak. Bagi menantu lain, mungkin dia akan merasa kesal karena perannya sebagai istri tersingkirkan sementara. Suami tentu saja akan masak makanan ibunya daripada istrinya agar ibunya tidak merasa tersinggung karena sudah dimasakin. Tapi tidak denganku. Suami sudah terang-terangan lebih menyukai masakan ibunya daripada istrinya yang chef abal-abal ini, hehe.. jadi aku menerima dengan legowo dan justru lega. Itu artinya aku tidak perlu masak!

Tapi ada kalanya ketika aku masak, tiba-tiba ipar menawarkan masakannya ke suami dan suami bilang iya. Itu agak gimana ya.. ibaratnya, aku lho udah capek-capek masak demi kamu, tapi kami lebih milih makan masakan orang lain. Kalau memang kamu mau makan masakan orang lain, tau gitu kan aku nggak perlu masak. Masuk akal kan?

Memasak Karena Cinta

ibu rumah tangga memasak di dapur

Bagi banyak orang, memasak itu hal yang menyenangkan. Bisa mencoba resep baru, mencicipi makanan beraneka rasa, dsb. Tapi tidak denganku yang sedari kecil saja sudah susah makan. Memasak itu melelahkan. Aku bukannya tidak bisa memasak, aku bisa, tapi aku tidak mau. Pun kalau aku terpaksa memasak ya itu semua karena bentuk cinta. Aku memasak hanya untuk suami. Jadi ketika suami memutuskan untuk tidak makan di rumah, buat apa capek-capek memasak. Kalau laper, tinggal beli saja ke warteg atau bikin ceplok telor. Banyakin telornya biar kenyang, beres kan?

Katanya masakan ibu adalah salah satu bentuk cinta yang akan diingat oleh anak-anaknya seumur hidup. Ya, aku setuju sih. Tapi kalau dia tidak kompeten dan keracunan seperti em be ge gimana?

Aku iri banget, sumpah iri sama perempuan yang energinya nggak habis-habis dan passionnya untuk memasak. Kalian hebat. Apalagi ditengah padatnya kerjaan sebagai IRT, kalian masih sempat open PO makanan untuk dijual. Aku nggak akan bisa menjadi seperti kalian. Aku cuma bisa jadi penglaris saja. Semoga rejekiku berlimpah agar bisa mencicipi masakan-masakan enak dari perempuan hebat di luar sana.

Jujur, andaikan uangku banyak.. aku mau deh punya private chef. Gak usah muluk-muluk seperti punya Nikita Willy yang dari Le Cordon Bleu Australia, alumni tukang masak di Warteg Bahari juga boleh. Atau beli masakan di restoran seperti Solaria, Ta Wan, Bakso Lapangan Tembak, Dapur Wong Solo, Sate Senayan, dll lalu aku plating lagi biar jadi masakan rumahan juga mau.

Penutup curhatan hari ini..

Gimana, sudah terlihat kan benang merah masalahnya? Ya.. ternyata ketidaknyamanan finansial membuat hal yang seharusnya sepele menjadi masalah besar.

Untuk saat ini aku harus berdamai dengan keadaan karena in this economy semua orang harus pintar mencari cara agar situasi yang gak nyaman bisa dilalui. Aku kini memasak hampir setiap hari, senin-jumat. Sejauh ini, semua aman terkendali dan tidak ada yang mengeluh keracunan karena masakanku. Hahaha… Saat weekend, aku memutuskan untuk cuti dan memilih makan di luar. Ini demi kewarasan dan kestabilan ekonomi. Jika ekonomi membaik, akan aku hire chef dari Warteg Bahari itu!

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *