Jangan sampai Tuhan mengabulkan keinginanmu dengan cara yang tidak biasa
Itulah yang terlintas di pikiranku ketika meminta sesuatu pada penciptaku agar keinginanku dikabulkan.
Beberapa minggu lalu, aku dan suami bertengkar. Tangki emosiku sudah sangat penuh dan akhirnya meledak. Bukannya suami introspeksi diri mengapa aku sampai begitu, dia malah menyalahkanku dan mendiamkanku selama dua minggu.
Jujur, setelah semua emosiku keluar rasanya lega. Apa yang selama ini ku pendam, rasa sakit, kecewa akhirnya bisa keluar. Aku tidak menyesal sudah melakukannya.
Selama dua minggu itu aku selalu minta, “Ya Allah.. tolong cabut rasa sakit hati ini dengan cepat. Jika memang dia bukan jodohku, tolong tunjukan caranya agar aku segera move on.”
Biasanya cara itu berhasil ketika aku putus dengan mantan-mantan pacar terdahulu dan meminta Tuhan untuk membantu menyembuhkannya.
Tetapi bukannya dikabulkan, malah aku merasa kebalikannya. Seperti ada magnet yang selalu menarikku terus ke dia. Padahal sudah berkali-kali sama-sama kecewa satu sama lain, tetapi selalu ada cara untuk berbaikan.
Konsultasi dengan Praktisi Energi
Tidak sengaja aku melihat salah satu postingan di sosmed tentang soul tie. Dia membantu mencari tau kecocokan pasangan melalui life path, love language, life past, dsb.
Awalnya aku tidak terlalu berkespektasi banyak, karena deadline pengerjaannya juga mundur 1 hari. Rasa skeptis itu ada.. tapi ketika membaca hasilnya dan beberapa saran yang diberikan, membuatku sadar bahwa pola ini akan terus berulang jika suamiku tidak berubah.
Apa itu Soul Tie / Tali Jiwa?
Soul tie (tali jiwa) adalah ikatan emosional–spiritual yang kuat antara dua jiwa.
Ia terbentuk karena:
janji batin (sadar/tidak sadar), pengalaman emosional mendalam, hubungan di kehidupan lampau, atau ikatan karma yang belum selesai.
Life Pathku adalah 3. Aku orangnya ekspresif, emosional, komunikatif, butuh diapresiasi, butuh didengar dan dirayakan.
Sedangkan life path suamiku 11/2: intuitif tapi tertutup, setia, konvensional, memendam perasaan, mengekspresikan cinta lewat tanggung jawab, bukan kata-kata.
Bahasa cintaku adalah Words of Affirmation & Quality Time. Ingin disapa lembut, dipuji, dipeluk secara emosional, dan diajak bicara dari hati ke hati.
Sedangkan suamiku lebih ke Acts of Service & Consistency. Mencintai lewat hadir, bekerja, menafkahi, menjaga stabilitas dan rumah tangga.
Inilah akar konflik kami selama ini. Saling mencintai, tetapi berbicara dengan bahasa cinta yang berbeda. Aku merasa “tidak dicintai”, sedangkan suamiku merasa “sudah melakukan kewajiban”. Aku merasa waktu yang diberikan suamiku tidak ada, senin-sampai jumat dia bekerja. Berangkat pagi, pulang malam ketika kami sudah tidur. Walau masih satu rumah, kami jarang ngobrol. Ketika weekend datang, dia memilih untuk menghabiskan waktu dengan ibu dan adiknya. Itulah awal dari masalahnya.
Aku tidak bisa membayangkan jika kami masih tinggal di Surabaya, mungkin pernikahanku nggak akan bertahan lebih dari tiga tahun karena aku nggak akan kuat jika harus terus-terusan bertengkar dengan masalah yang itu-itu saja.
Lalu ahli spiritual energi itu menjelaskan, alasan mengapa rasanya seperti ada magnet yang terus menarik ke arahnya. Padahal secara fisik, suamiku itu bukan seperti yang aku inginkan. Pun secara materi, suamiku tidak memilikinya. Kenapa justru aku tertarik padanya? Padahal sudah jelas-jelas love language yang aku miliki saja dia tidak paham dan tidak mau paham.
Ternyata jawabannya ada di gabungan life path kami. Life Path 3 + 11 = 14 → 5
Compatibility 5 = hubungan magnetik, tarik–ulur, sulit dilepaskan, penuh pelajaran kebebasan dan kedewasaan emosional. Ini bukan hubungan biasa. Ada magnet jiwa yang bekerja kuat bahkan ketika logika berkata “tidak ideal”.
Magnet yang aku rasakan bukan fisik atau materi, melainkan ikatan jiwa lama yang belum sembuh sepenuhnya.
Hubungan Jiwa
Dijelakan pula bahwa hubunganku dan suamiku adalah KARMIC SOULMATE
Ciri-cirinya:
sulit berpisah meski sering terluka,
pola emosi berulang,
rasa “terikat” tanpa alasan logis,
hadir untuk menyelesaikan pelajaran jiwa lama.
Seorang muslim tidak diperbolehkan percaya dengan teori reinkarnasi dan sebagainya. Tetapi dalam konsultasi itu juga dibacakan bahwa ini pola yang berulang di kehidupan lampauku.
Mengapa Dipertemukan di Kehidupan Sekarang? Karena pelajaran lama itu belum selesai. Ibaratnya.. orang dengan fisik baru, tetapi jiwanya sama.
Dia akhir kesimpulan dijelaskan. Suamiku perlu belajar bahwa cinta juga perlu diucapkan dan ditunjukkan secara emosional. Aku pun perlu belajar menyampaikan perasaan dengan tenang, bukan menumpuk hingga meledak. Menyampaikan rindu dan kecewa tanpa menyerang.
Selama masih ada rindu, masih ada doa, dan masih satu rumah— ikatan itu belum selesai.
Terkadang dia berfikir, kenapa sih istriku nggak bisa apa-apa sendiri. Di sini lain, aku pingin punya banyak waktu dengan suamiku. Aku takut pemikiran seperti ini akan dikabulkan Tuhan dengan cara yang tidak biasa. Misalnya suami stroke? Amit. amit..
Memang akhirnya keinginan itu akan terwujud, aku akan bisa apa-apa sendiri tanpa suamiku. Di sisi lain, aku jadi lebih punya banyak waktu berdua dengan suamiku karena merawat suamiku yang stroke. Semoga Tuhan tidak mengabulkan keinginanku lewat cara-cara seperti ini.
Jika boleh memilih… semoga di kehidupan kali ini karma itu bisa selesai. Sehingga di kehidupan selanjutnya, aku tidak perlu berjodoh lagi dengannya.
Kesimpulan:
Jika kamu merasa ada yang janggal dengan hubungan percintaanmu, bahkan konsultasi psikolog sekalipun tidak terlalu banyak membantu.. mungkin kamu bisa mencari praktisi energi untuk mendapatkan sudut pandang lain.

aku baru tahu nih ttg konsultasi dg praktisi energi seperti ini. sepertinya ini bisa jadi salah satu slternatif mencari solusi atas permasalahan dg pasangan ya.. trmksh sharingnya..
menarik juga nih sudut pandangnya, saya baru tahu ada istilah soul tie dan sebagainya.
kalo ga salah saya pernah nonton salah satu tayangan youtube yang membahas seputar energi-energi kayak gini.
Wah menarik juga. Praktisi energi ini jadi semacam perspektif lain selain konsultan pernikahan. Anyway, apakah praktisi energi ini sudah jadi semacam profesi umum juga, Bu? To be honest, saya memang baru dengar.
Relate sekali. Hubungan memang tidak selalu hitam-putih, ada fase cinta dan lelah di waktu yang sama. Tulisan ini membuka perspektif bahwa refleksi diri dan doa punya peran besar dalam menyikapi konflik.
Menarik juga ya ilmu praktisi energi ini. Aku pernah juga nih dengar tentang life path ini tapi nggak terlalu mencari ilmunya sih. Tapi ya namanya pernikahan pastinya ada aja ya, mbak ujiannya termasuk masalah perbedaan bahasa cinta ini
Pembahasan yang menarik.
Bagaimanapun, semoga hasil akhirnya sama-sama positif untuk mbak, juga suami
Lalu, kembali sama-sama berkomitmen mempertahankan ikatan.
Insya Allah, aamiin
Baca ini membuat saya berpikir dan merenung soal hubungan saya dengan pasangan Kak, sering bertengkar tapi susah banget mau lepas, setiap abis bertengkar langsung baikan, ga bisa kehilangan dan marahan lama-lama, untungnya juga bertengkarnya ya yang biasa saja, mungkin ini kali ya yang namanya energinya sama dan sebagai soul tie, mau bertengkar kayak mana juga tetep ga bisa pisah
Hmm, namanya juga relationship ya
Ada pasang surutnya sih
Tapi selama masih bisa berkomunikasi dengan baik, setiap masalah pasti ada solusinya ya
Baca ini saya jadi punya insight baru, ternyata ada ya praktisi energi
Sosial medianya bisa lebih paham dengan kondisi yang dialami Kakaknya, sehingga bisa bertemu praktisi konsultasi pernikahan. Makanya akupun juga baru tahu itu istilah Soul Tie
Tapi jujur menyatukan dua orang dengan bahasa cinta yang berbeda itu rada-rada ya mbak. Aku pun pernah merasakannya pula.
Semoga ikatan pernikahannya bisa terjalin, tanpa harus menyakiti salah satu, atau duanya, ya kak. ❤️