Pengalaman (Diduga) Terkena Covid Varian Kappa Yang Mirip Campak

Beberapa hari lalu, anak-anakku sakit selama lebih dari 10 hari yang kemungkinan disebabkan oleh covid varian terbaru, yaitu kappa yang sudah masuk ke Jakarta dan sekitarnya. Aku hanya akan berbagi pengalaman seputar gejala yang dialami oleh anak-anakku secara rinci.

Kenapa aku tulis judulnya DIGUGA? Penjelasannya ada di paling akhir kesimpulan dari tulisanku ini.

Aku tidak akan berbagi tentang foto saat anakku sedang sakit, karena aku tidak ingin menjadikan mereka konten. Aku hanya ingin berbagi pengalaman secara tulisan saja. Semoga pengalaman ini bisa berguna bagi teman-teman yang sedang sakit memiliki gejala yang sama dengan yang anak-anakku alami.

Gejala Covid Varian Kappa

Sebelum PPKM diberlakukan, anak-anakku sudah tidak pernah keluar rumah dan bermain di luar bersama teman-temannya. Hal itu karena memang kami larang mengingat di televisi kasus corona di India sudah menggila. Namun seketat-ketatnya protokol kesehatan, pasti semua orang pasti punya sisi lemah dan akhirnya kecolongan juga.

Awalnya aku bingung, anak-anakku ini ketularan dari siapa sih kok bisa sakit? Gak pernah keluar rumah, gak pernah berinteraksi dengan orang lain selain kami orangtuanya. Lalu kenapa bisa sakit?

Lalu aku ingat, pada hari Minggu tanggal 11 Juli 2021, setelah berhari-hari di rumah akhirnya agar tidak bosan aku mengajak anakku yang paling besar umur 9 tahun 10 bulan untuk ikut menemaniku pergi beli ayam geprek dan mampir mini market di dekat rumah. Mungkin inilah awal mengapa anakku bisa sakit.

Obat-obatan yang digunakan:

  • Paracetamol
  • Sanmol sirup
  • Diatab
  • Entrostop anak sirup
  • Vitamin C
  • Sakatonik anak

Jamu herbal yang digunakan:

  • Jamu Lem Baja (Lemon, Madu, Bawang Putih Tunggal, Jahe Merah, Cuka Apel). Bikin sendiri, resepnya ada di sini.
  • Xamthone jus manggis.

Hari ke-1

Selasa, 13 Juli 2021.
Gejala: demam, kepala pusing, mulut pahit, tidak selera makan, saturasi oksigen normal

Setelah sholat subuh, anak pertamaku yang bernama Nevan mengeluh kalau badannya panas dan kepalanya pusing. Aku memberikannya paracetamol karena suhunya sudah lebih dari 37 derajat. Sempat turun sebentar panasnya, namun siang hari suhu badannya kembali tinggi. Malam hari juga sempat demam, sehingga seharian itu Nevan tidur terus hingga keesokan harinya. Kami selalu rutin mengecek saturasi oksigen dengan oximeter, alhamdulillah normal diangka 98-99.

Saat makan malam Nevan mengeluh mulutnya tidak enak. Aku dan suamiku berfikir, oh ini demam biasa mungkin mau flu/batuk. Ketika dicek pakai senter, tenggorokannya memang terlihat kemerahan. Wajar kan kalau demam rasanya semua makanan akan terasa pahit?

Aku juga bertanya padanya, “masih bisa mencium bau nggak?”. Dia bilang masih bisa mencium bau kentut. Alhamdulillah, berarti masih aman nih, coba nanti dicek lagi hari kedua apakah anakku anosmia atau tidak.

Hari ke-2

Rabu, 14 Juli 2021.
Gejala: demam, kepala pusing, diare, saturasi oksigen normal

Nevan masih mengeluh pusing dan badannya masih demam. Setelah sarapan, nggak lama kemudian dia BAB dan saat itu BABnya masih normal. Siang harinya, dia BAB lagi dan kali ini konsistensinya cair/encer. Suamiku langsung menyuruh Nevan minum diatab. Sudah mulai curiga nih, jangan-jangan gejala tipes? Tapi tunggu duu perkembangannya 2-3 hari lagi, siapa tau saja cuma demam saat dia mau pilek seperti biasanya.

 Secara bertahap anakku mengkonsumsi obat, jamu dan vitamin per 2 jam sekali. Hari kedua ini Nevan sudah tidak terlalu lemas dan mau makan apa saja termasuk buah-buahan dan sayuran.

Hari ke-3

Kamis, 15 Juli 2021.
Gejala: demam, diare, saturasi oksigen normal

Demam sudah tidak sesering hari pertama dan kedua. Demam cuma datang siang dan malam hari saja. Sudah tidak pusing namun diarenya masih ada walau tidak lebih dari 4x. Nevan sudah bisa makan normal dan pemberian vitamin C 1x sehari, sakatonik anak 1x sehari, serta jamu masih diberikan selang 2 atau 3 jam sekali.

Hari ke-4

Jumat, 16 Juli 2021.
Gejala: demam, diare, saturasi oksigen normal

Anakku yang nomer 2 bernama Levin umur 5,6 tahun mendadak juga demam malam harinya. Namun tidak seperti kakaknya, dia walaupun demam namun masih aktif dan tidak mengeluh pusing. Levin juga mengalami diare. Berhubung Levin tidak bisa meminum obat tablet, jadi semua obat yang kuberikan dalam bentuk sirup. Nafsu makan mereka normal dan mereka mau makan apa saja yang diberikan termasuk buah-buahan.  

Hari ke-5

Sabtu, 17 Juli 2021.
Gejala: demam, saturasi oksigen normal

Tidak jauh berbeda dengan hari ke-4, Levin masih mengalami demam dan diare. Tidak ada tanda-tanda mereka anosmia, batuk ataupun pilek. Berita bagusnya Nevan sudah mulai pulih tidak ada demam lagi selama 12 jam terakhir.

Hari ke-6

Minggu, 18 Juli 2021.
Gejala: Muncul ruam di tangan lalu beberapa jam kemudian menjalar ke seluruh badan dan kaki. Tidak ada ruam di wajah. Saturasi oksigen normal

Nevan sudah tidak demam selama 24 jam terakhir. Dia sudah bisa beraktifitas nomal di rumah seperti biasanya seperti mengerjakan tugasnya mengepel tiap sore. Lalu pada sore hari dia mengeluh, “Ma, tanganku kenapa ya kok ada merah-merahnya?”. Lalu aku jawab, “Mungkin kamu tadi habis ngepel lupa cuci tangan”.

Malam harinya, aku dan suamiku pergi beli sate untuk makan malam. Setelah makan sate, Nevan mengeluh lagi kalau sekarang di seluruh tangannya kasar dan ada merah-merah seperti ruam. Kami kaget dong, masa sih dia alergi makan kacang? Biasanya juga makan sate sambal kacang gpp.

Suamiku dan Nevan ke klinik dekat rumah. Rupanya kalau mau konsultasi sekarang tidak bisa dengan dokter, harus janjian dulu dan konsultasinya melalui WhatsApp.

Hari ke-7

Senin, 19 Juli 2021.
Gejala: Muncul ruam di tangan, kaki dan seluruh badan kecuali di wajah. Saturasi oksigen normal.

Dokter klinik baru bisa dihubungi senin pagi melalui WA. Sayangnya dokter tidak bisa melihat langsung pasien hanya berdasarkan kronologi yang kami sampaikan mulai dari sakit hari ke-1 hingga hari ke-7. Dokter saat itu hanya bisa berkata bahwa diagnosa awal adalah campak. Dokter tidak memberikan resep juga, beliau hanya berkata banyak minum jangan sampai dehidrasi. Tunggu sampai besok kalau ternyata demam lagi langsung cek darah.

Berhubung sudah muncul ruam, aku mulai curiga nih. Kok mirip campak ya? Tapi.. dulu aku dan anak-anak sudah pernah kena campak pada tahun 2018 saat Nevan masih TK B. Masa sih bisa kena lagi? Secara logika, campak biasanya menular jika kontak dengan sesama penderita campak. Tapi Nevan sama sekali nggak keluar rumah 1 bulan terakhir.

Hari ke-8

Selasa, 20 Juli 2021.
Gejala: Levin mulai muncul ruam di tangan. Saturasi oksigen normal.

Obat yang diberikan: banyak minum air, jamu lembaja, xamthone, sakatonik anak, vitamin C

Ruam di kaki, tangan dan badan Nevan sudah mulai berkurang. Mungkin karena dua hari terakhir digempur terus sama jamu-jamuan dan vitamin. Sebagai gantinya, dia merasakan sensasi gatal terutama malam hari saat tidur. Pagi hari ini pula anak keduaku, Levin laporan. “Ma, tanganku ada bitnik-bintik merah kayak kakak”. Ya Allah.. kali ini Levin juga kena. Fix ini mah bukan alergi kalau Levin juga kena. Berhubung kulitnya levin putih, jadi bintik-bintiknya terlihat sangat jelas. Ketika diraba tangan dan kakinya terasa kasar. Agar tidak terlalu gatal, aku memberikan mereka bedak ke seluruh tubuh.

Aku masih denial kalau anak-anak terkena campak (lagi). Nggak mungkin campak!

Hari ke-8

Rabu, 21 Juli 2021.
Gejala: Nevan sudah tidak ada ruam, Levin masih ada ruam dan tambah banyak.

Nevan sudah menunjukan tanda-tanda perbaikan. Ruam di kulit Nevan sudah menghilang tanpa bekas, hanya menyisakan rasa gatal saja. Ruam di kulit levin bertambah banyak, sepertinya hari ini puncaknya semua bitnik-bintik itu keluar. Baik Nevan maupun Levin sudah tidak demam, tidak lemas, tidak diare.

Hari ke-9

Kamis, 22 Juli 2021.
Gejala: Pada malam hari tidak bisa tidur, gelisah karena seluruh badannya gatal.  

Setelah merasa gatal semalaman, keesokan harinya Nevan merasa lebih baik. Ruam sudah hilang sempurna tanpa bekas dan sudah tidak gatal lagi. Levin sudah menunjukan tanda-tanda ruamnya memudar.

Hari ke-10

Jumat, 23 Juli 2021.
Gejala: Tidak ada.

Alhamdulillah ruam di kulitnya Levin sudah menghilang total, tanpa meninggakan bekas. Kini aku yakin anak-anakku sudah sembuh dan tinggal masa pemulihan.

Curiga Bukan Campak Tapi Covid Kappa Varian Terbaru

Pada hari ke-9 ini aku mulai curiga. Kalau ini beneran sakit campak, bekas ruamnya tidak menghilang secepat ini. Aku tau, karena aku pernah kena campak tahun 2018 bersama anak-anakku. Aku yang merawat mereka mulai dari hari pertama mereka demam, batuk, pilek, hingga campaknya meninggalkan bekas di kulit. Aku pun mengalami hal yang sama ketika tertular campak.

Sebelumnya anak-anakku sehat waafiat karena tidak keluar rumah. Cuma sekali doang saat anakku yang paling besar ikut aku pergi keluar, 2 hari kemudian dia langsung sakit. Kalau campak biasanya masa inkubasi virus hingga menimbulkan gejala butuh waktu sekitar 10-14 hari. Sedangkan sakit yang dialami anakku instan dalam waktu 2 hari setelah dia keluar rumah.

Aku lalu coba browsing-browsing berita, lihat Instagram dan ternyata gejala yang anak-anakku alami mirip dengan covid varian kappa yang terbaru. Panik gak? Panik lah masa enggak! Tapi paniknya udah terlambat sih, karena anak-anakku sudah mau sembuh karena sudah isoman hampir 10 hari.

Semakin yakin karena ada pengalaman orang yang anaknya positif covid dan gejalanya sama dengan anakku, termasuk ciri khasnya ada ruam di sekujur tubuh.

Nggak hanya itu, penjelasan tentang ciri-ciri covid varian kappa juga dijelaskan di sini.

Semakin yakin aja kalau jangan-jangan anakku beneran bukan campak, tapi kena covid. Hanya saja anak-anakku tidak diswab.

Kenapa anak-anak kami tidak dites covid?

  1. Sejak awal tidak curiga pada covid karena tidak ada gejala covid pada umumnya seperti batuk, saturasi oksigen turun, sesak nafas dan anosmia.
  2. Muncul ruam di badan yang menurut diagnosa dokter adalah campak.
  3. Test PCR di Puskesmas terbatas, prioritas untuk orang yang pernah kontak erat dengan pasien covid. Kami tidak kontak dengan orang yang terkena covid, kami sendiri sebagai orangtua juga sehat-sehat saja tidak ada gejala.
  4. Tidak tega melihat anak-anak diswab, dimasukan benda ke dalam hidungnya pasti mereka menangis.
  5. Suami juga tidak ingin membuat aku dan anak-anak jadi down. Daripada fokus menunggu hasil swab PCR positif atau negatif, lebih baik fokus mengobati gejala sakit mereka seperti mengobati demam atau diarenya. Kalaupun hasilnya positif, dokter juga pasti menyarankan untuk lanjut isoman apabila tidak ada gejala serius.
  6. Membuat anak-anak kembali ceria dan bahagia adalah prioritas utama. Tidak penting anak-anak mengetahui mereka sakit apa, yang penting fokus kesembuhan mereka.
  7. Suamiku masih berfikir kalau mereka terkena campak, bukan covid.

Apakah kami sebagai orangtua ada gejala?

Nah, ini pertanyaannya cukup unik. Secara logika, kalau anak-anak kami terkena covid kappa atau campak pasti kami juga akan bergejala atau positif karena kami berada dalam satu rumah, makan bersama dan tidur di kamar yang sama dengan anak-anak.

Jika benar covid kappa, tidak menutup kemungkinan kami adalah OTG. Walaupun aku yakin mungkin bagi orang lain agak aneh kami tidak ada gejala apa-apa, minimal pasti pernah demam/meriang. Apalagi kami kontak erat, ya gak? Sayangnya kami tidak ada gejala sama sekali. Itulah mengapa yang membat suamiku masih positif thinking kalau anak-anak cuma kena campak dan bukan covid. Btw kami sudah pernah vaksin walau baru tahap I.

Suami: Sudah vaksin tahap I Juni 2021 – Astra Zaneca
Istri: Sudah vaksin tahap I Juli 2021 – CoronaVac

Protokol Kesehatan Yang Ketat

Pada saat pertama kali corona diumumkan, aku dan suamiku memberi pengertian kepada anak-anak bahwa sekarang ada yang namanya wabah penyakit covid-19. Penyakit ini berbahaya dan mematikan, oleh karena itu kita semua wajib pakai masker kalau keluar rumah, mencuci tangan, tidak menyentuh mata atau hidung, dll.

Setiap kali kami pergi ke luar, atau mereka bermain di luar bersama teman-temannya selalu memakai masker. Kami juga selalu memakai masker apabila menerima paket dari kurir/ojol atau sekedar bertemu tetangga. Paket yang kami terima selau kami semprot desinfektan terlebih dahulu sebelum keesokan harinya kami buka.

Setelah PPKM diberlakukan, anak-anak tidak pernah keluar rumah atau bermain bersama teman-temannya. Setiap kali kami pergi keluar aku dan suamiku memakai dobel masker.

Kami bukan takut corona, tapi kami ikhtiar sehat. Segala cara kami lakukan agar jangan sampai terkena penyakit ini. Tapi kami juga pasrah apabila segala usaha sudah dilakukan tetapi pada akhirnya kami terkena corona ya berarti sudah takdir Allah.

Kesimpulan:

Dari gejala sakit yang dialami oleh anak-anakku DIDUGA sepertinya mengarah ke gejala covid-19 varian kappa. Aku baru mengetahuinya pada hari ke-9 isoman saat anakku sakit saat membaca berita di internet tentang gejala covid varian terbaru. Sayangnya aku tidak bisa membuktikan karena tidak ada tes PCR. Mau dites sekarang juga rasanya percuma karena sekarang anakku sudah tidak bergejala. Jikapun ternyata bukan covid melainkan sakit yang kemarin adalah campak, aku malah lebih senang.

Jika ada yang penasaran, kami senang hati kok kalau ada yang mau mensponsori kami untuk melakukan Tes Kuantitatif Serologi untuk membuktikan anak-anak kami beneran pernah terkena covid kappa atau tidak. Jujur aja, tes begitu tidak discover BPJS jadi kami tidak bisa melakukannya dengan biaya pribadi. Karena kami juga mikir, daripada uangnya dipakai untuk tes ini itu hanya karena penasaran, lebih baik uangnya dipakai untuk beli masker, multivitamin dan buah-buahan untuk kami di rumah agar tetap sehat.

Aku dan suamiku tidak ada keluhan, tapi tidak menutup kemungkinan kalau kami ini OTG. Selama isoman dan belum mengetahui kalau anak-anakku DIDUGA kena covid kappa, aku dan suamiku sering bepergian HANYA UNTUK KEBUTUHAN PENTING untuk belanja kebutuhan pokok, ke mini market, ke apotek dan mengirim paket lewat ojol yang durasinya tidak lebih dari 30 menit tentunya dengan berbekal masker dobel (masker medis + kain).

SAKIT ATAUPUN TIDAK SAKIT, selama ini kami sudah berusaha maksimal untuk melindungi orang lain dengan selalu menutup rapat masker kami saat berinteraksi dengan mereka. KAMI SELALU BERINTERAKSI DENGAN ORANG LAIN DENGAN MEMAKAI MASKER. Semoga orang-orang tersebut imunnya kuat, sudah divaksin, selalu dalam lindungan Tuhan.

Jika teman-teman punya pengalaman serupa bisa share pengalamannya di sini. Atau jika teman-teman sedang sakit atau curiga dengan gejala seperti yang aku ceritakan tadi, ada baiknya langsung swab PCR saja.

Ingat, virus covid-19 varian kappa ini bisa menginfeksi dengan sangat cepat hanya dalam 10 detik saja apabila berpapasan dengan OTG. Jadi, jangan capek pakai masker, dan rapatkan terus maskernya jangan kasi kendor!

Salam sehat selalu untuk kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like