4 Alasan Untuk Tidak Merayakan Hari Ibu

Hari ibu sudah lewat beberapa hari lalu. Beberapa teman dan selebritis merayakannya dengan memajang foto ibunya di sosmed atau di status SNS mereka dilengkapi dengan cerita singkat, ucapan dan harapan kepada ibunda mereka.

Ada pula yang benar-benar niat merayakan hari ibu dengan membelikan kado, kue tart atau bunga. Sayangnya di keluargaku tidak ada tradisi seperti itu. Aku bahkan tidak mengingatnya. Tanggal 22 Desember ya berlalu begitu saja sama seperti hari biasanya.

Perayaan hari ibu adalah momen dimana kita sebagai perempuan diingatkan kembali kodratnya yaitu menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui. Hari dimana seseorang dianggap lebih spesial daripada orang lain karena sudah berhasil menjadi ibu. Baik yang melahirkan secara langsung atau hanya sebagai ibu angkat/ibu sambung yang membesarkan anak-anaknya dengan sepenuh hati.

Jadi, kenapa aku tidak menyukai gagasan hari ibu? Berikut 4 alasan mengapa tidak perlu merayakannya.

Kali pertama menjadi seorang ibu tahun 2011 saat berumur 24 tahun

1. Terlalu sentimentil

Sejak aku lahir hingga dewasa umur 30 tahun, kami tidak pernah merayakan hari ibu. Papa tidak pernah dekat dengan anak-anaknya untuk sekedar mengajak dan memberi kejutan atau apresiasi kepada istrinya. Jangankan hari ibu, hari ulangtahun istri dan hari pernikahan mereka juga biasa saja. Tipikal pria Indonesia jaman dulu, tidak romantis.

Hal-hal sentimentil itu baru terjadi baru-baru saja pada anak muda sekarang. Semuanya jadi terbuka mudah diutarakan dan serba komersial karena apa-apa dirayakan.

Lalu jaman pun berubah. Mamaku sudah mulai mainan sosmed dan melihat kehidupan orang lain yang ‘sempurna’. Diberi ucapan selamat dan doa oleh anak-anaknya, diberi kado dan dipamerin fotonya di sosmed, yang intinya ya untuk pencitraan semata.

Mama lalu kecewa mengapa anak-anaknya tidak begitu. Mengapa anak-anaknya tidak perhatian padanya seperti orang lain?

Sekali dua kali kami coba mengikuti ‘tren’ hari ibu ini. Tapi ada kalanya kami lupa dan males. Maklum, satu-satunya tanggal yang diingat cuma tanggal gajian. Bahkan karena saking lamanya berada dirumah, aku susah membedakan antara hari minggu, rabu atau jumat.

Tapi karena sudah menjadi tradisi, akhirnya orangtua yang tidak mendapatkan ucapan dan kado pada saat hari ibu menjadi kecewa dan sedih. Padahal ya hanya tanggal itu hanya sebagai simbolis saja. Apakah dengan melupakan tanggal 22 desember lantas seorang anak menjadi tidak sayang lagi kepada ibunya?

Hal-hal sentimentil ini cuma bikin baper dan overthinking yang nggak perlu. Apalagi kalau orangtua sudah baper, bahaya bisa sakit atau memperpendek umur karena stress yang berlebihan.

Jadi kalau anak-anakku bahkan tidak ingat hari ibu atau hari ulang tahunku sekalipun, bagiku tidak masalah. Deep down inside aku tau mereka pasti menyayangiku sebagai ibunya walaupun aku sendiri merasa bukan ibu yang baik atau mungkin mereka juga merasa aku bukan ibu yang sempurna untuk mereka.

2. Hanya untuk pencitraan

Banyak dari orang yang aku kenal ikut merayakan hari ibu dengan pencitraan memasang foto ibunya dengan caption ‘love you mom’ atau ‘happy mother’s day’ padahal sehari-harinya suka nyusahin ibunya.

Disuruh nyuci piring sehabis makan nggak mau, disuruh buang sampah ngerasa jijik, bantuin pekerjaan rumah tangga ibunya ogah-ogahan, rumah ibunya sering bocor, kusen jendela sudah lapuk dan bingung mau direnovasi tapi tidak ada uang tetapi anaknya diam aja. Anaknya lebih milih beli gadget iphone terbaru dengan paylater atau anak2nya sering posting makanan mahal dan liburan terus tapi ibunya gak pernah diajak.

Gitu kok merasa seperti orang paling sayang sedunia kepada ibunya hanya karena mengingat hari ibu dan mengucapkannya. Heleh!

Suami: “Bebeb.. selamat hari mama”(sambil peluk-peluk)
Aku: “Apaan dah, geli tau”

3. Menghabiskan banyak uang

Jika kamu mampu dan berkecukupan, mempunyai tradisi merayakan hari ibu setahun sekali ya gak papa. Toh cuma setahun sekali nggak akan bikin bokek. Tapi pastikan itu bukan hanya sekedar pencitraan tetapi perbuatan dari hati.

Aku juga senang-seneng aja sih kalau ada anak yang memberikan kado kepada ibunya atau ayahnya, karena bagiku ya itu bisa jadi cuan. Maklum lah, aku juga jualan produk fashion yang bisa diberikan kepada ayah atau ibu sebagai kado.

Sebenarnya yang diinginkan ibu dari anak-anaknya ketika dewasa adalah ditanyain kabar setiap hari, diajak ngobrol, sering dikunjungi dll.

Makanya kalau merasa kok nggak seperti anak-anak lain pada umumnya yang nggak bisa pamer di sosmed tentang ibunya, nggak bisa ngasi kado, dll sebenarnya kalau ibu yang bijaksana maka dia akan maklum. Sayang uangnya hanya untuk pencitraan satu hari padahal sehari-harinya jarang diperhatikan oleh anak-anaknya.

Sebagai seorang ibu, aku gak butuh ucapan pencitraan seperti itu. Ya gak munafik juga sih pasti ibu seneng-seneng aja misalnya dikasi kado. Tapi yang dibutuhkan adalah bukti konkrit sehari-hari. Anak-anak yang mau membantu meringankan pekerjaan ibunya dan suami yang pengertian dan tidak banyak menuntut.

4. Setiap hari adalah hari ibu

Sewaktu kecil mama papaku juga tidak pernah mengapresiasi bakat dan kelebihan yang aku miliki secara langsung. Apalagi mamaku, bahkan ketika aku dewasa pun tidak ada kata-kata pujian untukku. Mama lebih suka bercerita tentang kesuksesan anak orang lain. Mama tidak pernah membandingku dengan orang lain sih, cuma beliau juga gak pernah membanggakanku. Jadinya anggap saja impas.

Lalu sekarang aku harus menuruti permintaan mama yang ingin diperlakukan seperti mommy2 di sosmed yang disanjung-sanjung anaknya sedangkan anaknya aja gak pernah? Ya mustahil lah.. aku tidak pintar menggombal atau menyanjung orang lain. Mamaku ini memang beda, lebih suka mementingkan pencitraan.

Berbeda dengan mamaku yang ingin dianggap ‘penting’, aku justru memutuskan untuk tidak mengikuti trend karena setiap hari bagiku adalah hari ibu. Tidak perlu hari khusus untuk memberi uang, hadiah, kue, makanan enak dan bunga kepada ibu. Tidak perlu hari khusus juga untuk menyanjung ibumu. Tanpa ibu sehari saja, semuanya kacau dan anggota keluarga lainnya tidak berdaya. Percaya deh.

Ketika kamu juga merasa ibumu selalu jahat padamu dan bukanlah ibu yang baik, tidak mengucapkan selamat hari ibu pun juga tidak akan menjadikanmu berdosa.

Kesimpulan:
Hari ibu sama seperti hari-hari lainnya hanya akan digunakan untuk tujuan komersil dan penanda saja. Kebanyakan yang mengingat hari ibu dan mengucapkannya adalah sesama perempuan karena ingin diapresiasi atas pekerjaannya sebagai ibu. Sedikit sekali anak laki-laki atau pria yang mengucapkan itu kepada ibunya padahal sudah dibuatkan satu hari khusus. Jadi daripada merayakan hari ibu hanya pada tanggal 22 Desember saja, lebih baik merayakannya setiap hari dengan perbuatan yang konkrit untuk mengapresiasi kerja ibu karena itu adahal hal yang lebih disukai ibu.

4 comments
  1. Wah nomer 4 sering banget sih soal ngomongin anak lain dan membanding-bandingkan dengan kita sendiri. Tapi dari hal itu gak nyerah buat buktiin bahwa ak lebih baik dari dia. Tapi untuk hari ibu opsional banget sih mau ngucapin atau tidak, kembali lagi kepada diri masing-masing.

  2. Saya setuju kalau tiap hari adalah Hari Ibu, Hari Ayah dsb. Tapi menurut Saya juga tidak salah kalau sesekali merayakan keberadaan mereka selain ultah ya. Yg penting mereka seneng dan bahagia. Ga peduli org bilang pencitraan yg penting beliau2 senang. Tapi saran jangan berlebihan juga. Karena yg utama adalah kebahagiaan beliau2 ini. Mumpung masih ada, setiap ada kesempatan laksanakan

  3. Saya juga ga merayakan hari ibu cuma pas hari ibu kemarin saya belikan daster sih untuk Ibu karena sudah lama juga beliau ga beli daster, hehehe. Memang sebaiknya hari ibu itu diimplementasikan setiap hari ya mba

  4. BTW status SNS itu artinya apa ya, Kak? Belum pernah denger sebelumnya.

    Setuju ama poin nomor 4 karena tiap hari bisa jadi hari ibu karena tiap anak pasti menyayangi ibunya (dengan caranya sendiri).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like