Tata Dado Meninggal Dunia

Tata Dado meninggal dunia di kediamannya, Jalan Papandayan, Kalimalang, Bekasi kemarin Senin, 18 Maret 2013 sekitar pukul 16.30 WIB.

Tata Dado meninggal dunia di usia 48 tahun karena penyakit diabetes dan stroke yang dideritanya. Rencananya jenazah akan dimakamkan di makam keluarga di Karet Bivak.

Di mata keponakannya, personel ‘Silver Boys’ itu dikenal sebagai sosok yang periang.

Sangat tidak disangka ya, usia Tata Dado tahun masih bisa dibilang muda. Tetapi karena mungkin pola hidup yang tidak sehat semasa muda menyebabkan banyak dari kita yang sakit lebih dini. Semoga pengalaman ini membuat kita generasi muda semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan, karena sekarang bisa hidup lebih dari umur 60 tahun dan masih sehat segar bugar adalah suatu mukjizat.

Selamat jalan Tata Dado, selamat melanjutkan perjalananmu selanjutnya ke tempat yang lebih sempurna. Semoga engkau diterima dan mendapatkan tempat yang indah di sisi Tuhan YME. Amin.

Jangan Menyerahkan Sertifikat Rumah/Tanah Kalau Pembayaran Belum Lunas

Ini menilik dari pengalaman H. Mandra komedian di sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Saat ini dia lagi berjuang menyelamatkan tanahnya karena sertifikat yang dimilikinya ternyata sudah atas nama orang lain.

Jadi kronologinya seperti ini (saya kutip dari detikHot)

Saat itu, Sonia baru memberikan uang muka sebesar Rp 150 juta, namun Mandra sudah memberikan sertifikat tanah tersebut kepada Sonia. Ternyata oleh sang pembeli sertifikat tanah tersebut dijadikan agunan untuk kredit kepada Bank BCA cabang Subang, Jawa Barat dengan nilai peminjaman Rp 4,2 miliar.

“Kenapa Haji Mandra bisa percaya? Karena Sonia datang berulang kali ke rumahnya Haji Mandra dengan mobil plat polisi. Dia mengaku bekas istri jendral, bawa pengawal juga, bawa sertifikat yang sering ia beli. Mandra pun percaya, Sonia bawa notaris juga. Mandra nggak punya notaris akhirnya percaya dengan notaris Sonia,” paparnya.

Orang cerdas sekarang pun tau kalau sertifikat rumah atau tanah diberikan apabila pembayaran sudah lunas, ada hitam di atas putih, ada bukti dari notaris, dsb. Ini baru dikasi DP 150 juta aja sudah gelap mata dan percaya sama orang lain. Ya nggak salah kalau sertifikatnya disekolahin ke bank atau dipindah namakan. Nggak peduli mau dia pejabat kek, orang terpandang se kampung kek, teman baik, bahkan saudara sendiri! Kalau yang namanya sudah berurusan dengan uang, teman atau saudara bisa menjadi lawan.

Kalau menurut saya, si Mandra mungkin nggak akan menang dengan kasus ini, secara itu sertifikatnya sudah beda nama. Jaman sekarang yang namanya sertifikat ganda atau pemalsuan sertifikat itu bukan hal yang susah dilakukan kok, kalau tau celahnya semua bisa dilakukan. Tapi mudah-mudahan kasus kegoblokan ini tetap memihak kepada kebenaran dan keadilan, dan semoga cepat selesai ya (biasanya sih lama..).

Pengalaman yang sama pun hampir terjadi di keluarga saya. Rumah yang sekiranya mau dijual seharga 1,8 M sampai 2 M itu sudah dapat calon pembelinya. Tetapi si pembeli mau membayarnya secara mencicil, dikasi DP dulu 500 juta dan sisanya dicicil selama 6 bulan. Si penghuni rumah diberi waktu 3 bulan untuk pindah dari rumah itu karena sama dia rumah tersebut mau dihancurkan dan dibuat ruko. Karena memang lokasi rumah itu strategis dan memang cocok dipakai untuk usaha.

Orang waras manapun pasti akan mikir, lha kok enak dia sudah bayarnya nyicil trus ngusir dalam walku 3 bulan, sudah gitu rumahnya mau dihancurin pula. Kecuali kalau pembayaran rumah sudah lunas, terserah mau diapain tuh rumah urusan dia.

Dipikirnya oleh si calon pembeli, yang mau jual rumah itu goblok, jadi hanya dengan dikasi DP saja bisa dia kibulin. Dipikirnya yang punya rumah seperti orang betawi jaman dulu. Oh sorry ya.. walaupun si penjual rumah lagi butuh uang, bukan berarti bisa seenaknya dikibulin seperti itu.

Misalnya belum 6 bulan dan belum lunas trus dia membatalkan transaksi gimana? Rumah sudah terlanjur hancur, dijual kembali ke orang lain kan juga nggak mungkin. Dengan hanya 500 juta bisa apa? Cuma gigit jari.. padahal itu rumah seharga 2M.

Untungnya transaksi dengan calon pembeli rumah batal. Semoga nggak bertemu orang yang seperti itu lagi.

Oh ya, sekedar tips saja kalau mau jual rumah/tanah:

  1. Cari harga pasaran rumah/tanah di sekitar situ.
  2. Apabila lokasi tanah/rumah di daerah situ memang dipakai untuk tempat usaha, jangan percaya kalau ada pembeli yang mengatakan mau membeli tanah/rumah itu sebagai tempat tinggal. Karena dia hanya melakukan trik agar harga jualnya turun dan lebih murah.
  3. Kalau ada calon pembeli rumah/tanah yang menawar jauh dibawah harga pasaran, langsung tolak!
  4. Jangan sekali-kali menyerahkan sertifikat kalau pembayarannya hanya berupa DP, 25% atau 75%, pokoknya harus lunas dulu baru sertifikat diserahkan.
  5. Selalu jual kepada pembeli langsung, tanpa perantara dan bukan broker. Tapi kalau memang butuh uang banget ya terpaksa lewat broker.
  6. Jangan gelap mata dengan uang dan membiarkan rumah/tanah ditempati atau dikelola sebelum pembayaran lunas.
  7. Waspada segala bentuk penipuan, terutama kalau pasang iklan di media online/internet, karena ada Modus penipuan pura-pura ingin membeli rumah dari iklan di tokobagus.

1 40 41 42 43 44 121