Kesemrawutan Kota Tangerang,, kalah jauh sama Surabaya

Kesemrawutan Kota Tangerang,, kalah jauh sama Surabaya

Sudah hampir tiga tahun saya tinggal di Kota Tangerang, bukan di Kabupaten Tangerang atau Tangerang Selatan lho ya.. Soalnya Tangerang itu luas, dan ada banyak!

Saya merasakan perbandingan yang luar biasa MENCENGANGKAN ketika terbiasa tinggal di Sidoarjo dan Surabaya lalu pindah ke kota yang lebih ramai lagi seperti Tangerang.

Kota Tangerang ini.. saya menganggapnya ya seperti sidoarjo, kota di pinggiran kota metropolitan. Hampir semua penduduknya mencari nafkah di Jakarta. Sama seperti Sidoarjo hampir, semua penduduknya mencari nafkah di Surabaya. Bedanya adalah… warga kota Tangerang ini terdiri dari berbagai macam suku, terutama Jawa yang paling banyak. Mulai dari pedagang kaki lima, penjual sayur, pembantu, baby sitter bahkan di komplek perumahan saya tetangga paling banyak orang jawa! Saya berfikir…

Wah.. orang jawa sudah menjajah JABODETABEK!

Padahal masih nempel di kepala saya bagaimana dulu orang tangerang, orang betawi, yang rasanya jijik gitu sama orang jawa. Sampai kalau merasa kesal, menyindir, selalu bilang “JAWA LU!”

Kesannya orang jawa tuh ndeso banget gitu, kampungan, berada di luar planet antah berantah. Orang Jakarta dulu, menganggap dia buka tinggal di pulau Jawa. Itu tuh aneh banget!

Oh ya.. balik lagi ke topik awal, kesemerawutan Kota Tangerang.

1. Kota Tangerang ini tidak punya banyak taman kota, gersang! Bandingkan dengan Surabaya yang hijau, asri, rapi, bersih.

2. Polisi di Kota Tangerang kurang garang, kurang care! Ada anak SMA bersepeda motor, goncengan nggak pakai helm dibiarkan saja. Waktu itu kan saya lagi berhenti di traffic light, bersama anak-anak SMA itu dan di sebelah jalan ada pos Polisi. Eh polisinya diem saja, pura-pura nggak melihat ada anak SMA yang nggak tertib.

Mungkin lho ya pikir polisi itu, anak SMA nggak ada duitnya, ah biarin saja. Coba kalau di Surabaya, mau anak sekolah kek, mau pengendara umum, namanya salah ya salah harus ditindak. Sehingga hukuman itu membuat efek jera.

3. Saya paling benci kalau melintasi pasar bengkok kunciran kalau mau ke rumah adik ipar. Itu jalan sempit banget, macet, semerawut. Kalau saya jadi walikota Tangerang, langsung saya gusur tuh pasar, saya pindahin agar jalan bisa lebih lebar. Why? Karena untuk akses ke perumahan BPKP cuma melalui jalan itu dan nggak ada jalan lain. Jadi mau nggak mau harus menerima kenyataan kalau jalan di situ macet dan kumuh.

Pasar bengkok kunciran itu seperti pasar manyar,, jadi alangkah indahnya kalau pasar itu bisa digusur, direlokasi sehingga jalan raya bisa lega untuk dilewati seperti jalan bekas pasar manyar di Surabaya.

4. Ada aturan dimana kalau kita mendengar sirine ambulance, kita WAJIB memberikan jalan agar mobil ambulance itu bisa jalan tanpa terjebak macet. Kita kan nggak tau apa yang terjadi di dalam mobil ambulance itu, pertaruhan antara hidup dan mati. Jadi ketika bunyi sirine itu meraung-raung, lebih care lah.

Bagaimana dengan warga kota Tangerang? Orang-orangnya kurang teredukasi. Terbukti dari 2 kali saya berhenti di perempatan traffic light dekat TangCity Mall, mobil ambulance berada di belakang mobil saya, tapi orang-orang di depan mobil saya nggak mau maju terus menerobos lampu merah. Suami saya sampai menekan klakson mobil beberapa kali, saya pun sampai memberi isyarat agar motor dan mobil di depan saya langsung maju saja karena mobil ambulance mau lewat. Gitu aja orang-orang nggak paham.

Ketika ada mobil ambulance di traffic light, kamu DIPERBOLEHKAN menerobos traffic light apabila kamu berada di depan mobil ambulance tersebut dengan tujuan memberikan jalan.

Coba kalau di Surabaya,, nggak tau aturan mobil sirine bunyi langsung jadi bulan-bulanan orang se-Surabaya.

Di Tangerang saya rasa walikotanya kurang care, nggak seperti di Surabaya bu Risma yang totalitas banget mengurus Surabaya.

Di Tangerang itu perlu ada radio seperti Suara Surabaya (radio SS e100), yang bener-bener memantau kota, memantau warganya. Jadi kalau ada warganya dan hal-hal yang nggak bener sedikit bisa langsung ditindak.

Sudah Saatnya Indonesia punya Unit Kejahatan Korban Pelecehan Seksual

Beberapa hari ini banyak sekali berita mengenai anak-anak korban pelecehan seksual, mulai dari pelecehan oleh orang tua tirinya, teman sepermainan, hingga orang yang tidak dikenal seperti cleaning service.

Kasus ini sepertinya dianggap remeh oleh penegak hukum di Indonesia, pinter-pinternya pengacara membela terdakwa, dan alasan lain seperti kurangnya barang bukti dan pernyataan anak di bawah umur dianggap tidak valid.

Hukuman pada pelaku tindak kekerasan seksual pun maksimal 15 tahun, bahkan saya melihat di berita bahwa ayah yang juga menjadi terdakwa pelecehan seksual kepada anaknya cuma dijatuhi hukuman 5 tahun.

Helllo… 5 tahun itu waktu yang sebentar,, belum lagi nanti dapat pengurangan hukuman pas kemerdekaan RI, atau pas lebaran atau asalan lain (karena berperilaku baik selama di tahanan), dan akhirnya hukuman 5 tahun itu pun bisa menjadi 3 tahun atau kurang.

Special Victim Unit

Unit Kejahatan Korban Pelecehan Seksual

Saya sering ya menonton serial Law & Order SVU di Fox,, itu ceritanya bangus banget. Banyak kasus-kasus pelecehan seksual yang beragam yang bisa kita jadikan pelajaran untuk lebih waspada. Contohnya, jangan suka berhubungan sex sembarangan dengan orang yang tidak dikenal, apalagi tidak menggunakan kondom. Selalu awasi anak-anak, bisa jadi dia dilecehkan di sekolah atau saat bermain oleh temannya sendiri. Yang paling parah adalah, pedofil!

Berhati-hatilah pada perdator di luar sana yang mengincar anak anda. Bisa jadi orang terdekat anda seorang pedofil yang siap melecehkan anak anda dan pastinya menimbulkan trauma yang berat.

Entah karena itu film atau karena super powernya Amerika,, hasil tes DNA bisa cepat diketahui dalam beberapa hari (malah bisa 24 jam). Bandingkan jika di Indonesia, kenapa harus menunggu hingga 2-3 minggu. Menunggu selama itu, pelaku kejahatan sulit ditangkap, bisa-bisa dia sudah lari ke Timbuktu. Kesuen sih!

Di serial TV itu, kasus pelecehan seksual dianggap suatu kriminal yang berat, sehingga dibuat tim khusus untuk menyelidikinya. Dokter forensiknya khusus, psikolognya khusus, detektifnya khusus, dll. Dan tau nggak sih, di serial TV itu hukuman pelecehan seksual minimal 15 tahun penjara, itu minimal!

Saya harap Indonesia mulai berkaca deh untuk hal semacam ini, jangan dianggap remeh. Orang korban pelecehan seksual yang tidak mendapat perawatan khusus, dia akan trauma dan akhirnya melakukan hal yang sama di kemudian hari. Seperti lingkaran setan gitu deh (padahal saya juga belum pernah lihat lingkaran setan).

Entah kenapa korban pelecehan seksual itu selalu wanita dan anak-anak. Andaikan saya punya kekuatan super gitu.. saya akan main hakim sendiri. Buat pelaku yang sudah dewasa, saya akan potong alat kelamin si pelaku pelecehan seksual hingga habis dan hanya menyiksakan buah zakarnya saja. Saya nggak akan membunuhnya, biar dia menderita saja seumur hidup. Karena toh percuma, hukum di Indonesia tidak membuat jera pelaku dan calon pelaku.

Sudahlah.. saya cuma bisa bantu doa untuk para korban agar keadilan bisa ditegakan. Amin.

1 2 3 4 5 6 129