— Antie.info

Google AdSense Sekarang Mendukung Bahasa Indonesia

Kemarin saya mendapatkan email dari Inside AdSense Team karena sudah subscribe ke blog Inside Adsense, kabar baik bagi publisher dari Indonesia. Sekarang iklan Google Adsense bisa ditaruh di blog atau website dengan konten Bahasa Indonesia, dan iklannya pun mengikuti bahasa setempat.

Biasanya dulu, kalau ditaruh di blog berbahasa Indonesia, iklan adsensenya nggak muncul, atau muncul tapi nggak relevan.

Hal ini juga sebagai jawaban atas kekhawatiran banyak publisher yang akun google adsensnya dibanned massal beberapa waktu lalu, sekarang publisher bisa mendaftar ulang dengan konten website berbahasa Indonesia.

Di bawah ini adalah email pemberitahuannya atau bisa juga dibaca di http://adsense.blogspot.com/2012/02/adsense-now-speaks-indonesian.html

We’re glad to announce that Indonesian has just joined the family of AdSense supported languages. Let’s celebrate by raising our hands in a kecak dance, watching a wayang kulit show or cooking traditional Indonesian recipes.

If you have a website in Bahasa Indonesia, you’ll now be able to earn money by showing Google AdSense ads. To get started, sign up for an AdSense account. We’ll review your application and in the meantime, we recommend you get familiar with the basics of AdSense and our policies.

If you already have an AdSense account, simply implement AdSense on your site in Bahasa Indonesia to start displaying contextually targeted ads.

You can now also implement AdSense for Mobile content on your mobile sites in Bahasa Indonesia. Check out our Help Center to learn how to implement AdSense on a mobile site.

Selamat datang di program AdSense!

Posted by Emanuele Brandi, Product Sales Lead

Saya sendiri sudah merasakan efek dari Google Adsense berbahasa Indonesia ini, saya memasang iklan adsense di blog Antie.info dan iklannya yang tampil berbahasa Indonesia juga. Cuma ada beberapa orang yang masih ragu, apakah ini benar? Karena ada beberapa teman yang mendaftar ke Google Adsense dengan blog bahasa Indonesia, tetapi masih belum diapprove.

Hmm.. menurutmu gimana?

Read More

Postingan ini bukan untuk melukai atau meyinggung siapapun, ini hanya unek-unek semata yang ingin dikeluarkan melalui tulisan. Saya cuma meyoroti orang-orang yang meminta sumbangan dengan cara ‘halus’ yaitu memberikan amplop.

pengemis beramplop

Dua hari lalu, saya dan suami pergi ke mini market dekat rumah karena di dalam mini market itu ada ATM Mandiri. Yaps, saya mau mengambil uang gaji untuk dibelikan kebutuhan bulanan rumah tangga. Dari jauh saya sudah melihat ada seorang pria membaya map berdiri di depan pintu mini market. sewaktu suami saya akan masuk ke mini market itu, si pria itu mengeluarkan amplop dan memberikannya kepada suami saya. Suami saya menolak dan langsung masuk ke mini market.

Saya menyebut pria itu ‘pengemis’ beramplop, kenapa? Karena model meminta sumbangan seperti itu sama saja seperti mengemis kepada orang lain tetapi jauh lebih sopan karena menggunakan amplop dan tidak mengadahkan tangan seperti peminta-minta. Tetapi tetap saja saya menganggapnya pengemis.

Saya nggak suka orang yang bisanya cuma meminta uang kepada orang lain tanpa berusaha bekerja. Sebenarnya dia bekerja sich.. berdiri berjam-jam gak minum, gak pipis cuma untuk membagikan amplop, hehe.. Saya melihat fisik pria itu sehat jasmani, kenapa tidak bekerja saja? Menjadi kuli bangunan masih lebih berharga daripada meminta sumbangan.

Lain halnya yang meminta sumbangan itu cewek seksi nan menawan, pasti amplopnya langsung diambil oleh suami saya dan dikasi uang Rp 100.000 #Keplak!

Ada beberapa orang yang menganggap ‘tugas’ meminta sumbangan untuk pesantrennya atau panti asuhannya itu adalah pekerjaan juga, masuk surga, halal nan mulia. Tetapi tidak dengan pendapat saya!

Selain di mini market, ‘pengemis’ beramplop itu juga biasanya mangkal di dekat ATM. Pintarnya, mereka berakhis setiap awal bulan, terutama tanggal 30, 31, 1 hingga minggu pertama karyawan yang bekerja gajian. Mengapa? Karena banyak orang yang sudah terima gaji, sedang mengambil uang di ATM. Kalau yang di mini market, awal bulan biasanya banyak orang yang ke mini market (seperti indomart, alfamart, alfa midi, dll) untuk belanja bulanan, sehingga pasti mini market ramai dikunjungi. Ini trik pintar atau licik ya?

Jadi secara tidak langsung mereka ‘memaksa’ orang untuk infaq. Padahal kalo memakai amplop itu orang akan minimal ngasi uang kertas, minimal Rp 1000, karena pecahan uang kertas paling kecil sekarang Rp 1000. Coba kalau masih ada pecahan uang Rp 100 rupiah atau Rp 500 uang monyet seperti dulu. Bayangkan saja jika sehari dia dapat minimal 100 orang yang memberi sumbangan, sehari sudah mengantongi Rp 100.000. Padahal gak semua orang ngasi Rp 1000, ada yang ngasi Rp 5000 ada juga yang ngasi Rp 10.000. Kalau ada yang ngasi Rp 50.000 atau Rp 100.000 itu goblok, mending langsung datang ke yayasan atau lembaga amil zakat yang bisa dipercaya semacam rumah zakat atau YDSF.

Pasti kamu sudah pernah mengalami sebelumnya, bagi yang belum tahu pasti akan menerima saja amplop itu. Saya pun sebenarnya agak sebal, pada saat antri di ATM belum apa-apa, uang juga belum diambil eh sudah disodori amplop. Kalau saya sedang baik hati, suasana hati sedang bahagia, dan ada uang lebih, saya biasanya mengambil amplop itu dan memberikan uang setelah saya keluar dari ATM. Tetapi jika lagi kesal dengan ‘pengemis’ beramplop itu, ada dua kemungkinan. Saya tetap mengambil amplop itu dan tidak mengisinya dengan uang, atau kalau lagi terburu-buru ya saya langsung menolak amplop itu. Paling extrem ya tetep ngambil amplopnya dan menulis memo “Lain kali jangan ngemis ya..”, memo tersebut dimasukan ke dalam amplop dan dikembalikan ke orangnya. Hehehe.. kalau cara ke-3 itu terlalu extrem, jangan ditiru ya :) Kadang setelah menerima amplop itu, trus keluar dari mini market lupa dikembalikan, akhirnya terbawa sampai pulang ke rumah, hehe..

Sebenarnya, daripada mereka ‘mengemis’ seperti itu, ada baiknya mencontoh pesantren-pesantren yang lebih terhormat. Salah satunya pesantren favoritku, istiqomah. Mereka membuka usaha untuk mencari dana bagi pesantrennya, salah satunya adalah usaha jual beli kambing untuk aqiqah. Trus menjual hasil karya handmade anak-anak pesantren sebagai cindera mata bagi donatur, sehingga tidak semata-mata meminta sumbangan dengan kasar. Nggak seperti ‘pengemis’ beramplop itu.

Bahkan di suatu vihara di Blitar, mereka membuat DVD ceramah bhante kemudian bagi donatur yang menyumbangkan dananya, maka DVD itu akan diberikan, sebagai timbal balik dan ucapan terima kasih. Jadi nggak semata-mata meminta kepada umat.

Miris memang, memperburuk citra Islam saja di mata pemeluk agama lain :( Atau karena yang meminta sumbangan nggak cantik, kalaupun perempuan pasti pake jilbab, coba kalau yang minta sumbangan perempuan cantik, gak usah seksi cukup cantik aja dan sopan, mirip girlband korea, pasti banyak yang mau ngasi sumbangan. Yang minta bikin mereke enek kali, apalagi gak pake senyum, makanya males..

Read More