E-Tiket Commuter Line Bisa Menuai Masalah Baru

Mulai 1 Juli 2013, PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan menghapuskan tiket kertas untuk KRL Commuterline dan mengganti dengan tiket elektronik berupa kartu.

Kelebihan e-tiket KRL Commuterline:

  • Tidak perlu menyediakan uang cash, uang receh.
  • Tidak perlu mengeluarkan dompet ditengah keramaian orang, mencegah dari dompet jatuh, ketinggalan dan kecopetan.
  • Kartu e-tiket KRL cukup ditaruh di saku baju, dipakai ketika akan memasuki stasiun.
  • Menghindari tiket kertas yang rusak, sobek, hilang karena jatuh, dll.
  • Mengurangi sampah kertas di JABODETABEK.

Tetapi yang akan saya bahas adalah satu kekurangan e-tiket commuterline yang kalau tidak segera ditangani dengan baik atau kita tidak mencari solusinya, maka akan fatal akibatnya.

images @ Tempo.co

images @ Tempo.co

Biasanya orang kantoran itu selalu terburu-buru, datang ke stasiun selalu mepet waktu KRL pas akan berangkat. Dengan adanya tiket kertas KRL, maka orang akan langsung masuk kereta saja, dan resiko ketinggalan kereta sedikit.

Tetapi dengan adanya e-tiket KRL ini akan memunculkan masalah baru yaitu apabila penumpang yang ingin memasuki stasiun membludak, KRL sudah hampir datang dan mau berangkat lagi, KRL kan tidak bisa menunggu penumpang (beda dengan bus), sehingga meningkatkan resiko penumpang ketinggalan kereta, dan tentunya terlambat sampai di kantor atau terlambat pulang karena mau tidak mau dia harus menunggu kereta yang berikutnya.

Anggap saja apabila kartu sukses dibaca oleh mesin pintu masuk (discan) sekitar 2 detik. Apabila ada kartu penumpang yang gagal terbaca, akhirnya harus diulang scannya, dan itu butuh waktu lebih dari 5 detik. Bayangkan apabila ada lebih dari 10 orang kartu penumpang yang gagal terbaca, maka butuh waktu berapa lama untuk antri di depan mesin scan tiket?

Nggak mungkin kan petugasnya bilang, “ya udah masuk aja sana”. Eh gila aja.. padahal pada saat discan, pada saat itu nominal yang ada di kartu akan terpotong sebagai biaya tiketnya, trus penumpang nggak bayar dong, gratis? Asyiikk…

Solusinya mungkin kita bisa berangkat lebih awal pada saat akan berangkat kerja sehingga tidak sampai antri di depan mesin tiket masuk dan ketinggalan kereta. Tapi kalau untuk pulangnya agak susah, karena semua kantor pulangnya barengan jam 5 sore, semuanya langsung menuju stasiun, masuk bersamaan. Jadi ada kemungkinan penumpang akan ketinggalan kereta.

Jika ada yang punya solusinya di sini, silahkan share ya..

BBM Naik, Tarif KRL Jabodetabek Turun

Kabar gembira ditengah demo-demo mahasiswa yang gajebo menuntut BBM nggak dinaikan. Berita baik ini untuk warga JABODETABEK yang kantornya di Jakarta dan sering menggunakan KRL. Pemerintah akhirnya memberikan subsidi berupa Public Service Obligation (PSO) untuk layanan KRL AC senilai Rp 286 miliar.

KRL Jabodetabek

images @ berita8.com

Direktur Utama PT Kereta Api Persero (KAI) Ignasius Jonan mengaku pasca subsidi untuk penumpang ini, harga tiket dipastikan turun drastis. Seperti dari Bogor-Jakarta Kota, pasca subsidi penumpang cukup membayar Rp 5.000 dari sebelumnya Rp 9.000.

Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang pasca adanya penerapan tarif progresif dan pemberian subsidi untuk penumpang KRL AC oleh pemerintah, KAI akan menambah jumlah armada secara berkala hingga akhirnya per 1 September 2013, tidak ada lagi KRL Jabodetabek non AC.

BBM Premium Naik, Tarif KRL Jabodetabek Turun Per 1 Juli 2013

Naik KRL itu lebih cepat, nggak macet, dan pastinya pulang tepat waktu. Suami saya aja sehari-hari naik KRL dari Tangerang ke Sudirman, Jakarta. Lebih mahal naik angkot + nitip sepeda motor daripada KRL. Bayangkan kalau bawa kendaraan sendiri, motor atau mobil? Sudah stress di jalan, bensin cepat habis, pengeluaran rumah tangga membesar dan pastinya nggak bisa diprediksi nyampe kantor atau rumah jam berapa.

Biasanya suami saya berangkat dari rumah di Tangerang naik KRL ke Jakarta maksimal cuma 1,5 jam. Wah, jauh lebih hemat daripada menggunakan mobil pribadi atau angkutan umum, bisa lebih dari 2 jam hanya untuk perjalanan.

Thanks buat pemerintah. Kalau bisa berikan subsidi kepada PT Pos Indonesia juga, agar tarif kiriman ke luar negri juga diturunkan seperti China. Agar UKM bisa menjual barang mereka ke luar negri, dan bisa bersaing di luar negri. Selama ini barang dari Indonesia mutunya bagus, nggak kalah dengan luar negri, tapi gara-gara ongkos kirim yang mahal dari Indonesia, makanya banyak pembeli yang membatalkannya. *curhat lho ini pak, curhat*

1 16 17 18 19 20 129