Posts in "Social Life"

Monster Peminjam Uang – Bag I

Saya berjanji untuk tidak menggunjing orang lain pada tahun 2011, namun nyatanya membicarakan orang lain atau bergosip tidak bisa ditinggalkan bagi wanita ;p Kali ini saya tidak akan menggosipkan Ariel – Luna – Tary, bukan pula gosip perceraian AA Gym dengan istri pertamanya Teh Ninih, atau gosip yang lagi hot beberapa minggu lalu seperti Irfan Bachdim. Bukan.. bukan itu semua. Saya ingin bercerita tentang kehidupan sosial bertetangga, kali ini bukan menggosipkan yang jelek-jelek, tetapi sebagai bahan cubitan dan renungan semoga kita bisa introspeksi diri.

Saya ingin bercerita tentang orang yang suka sekali meminjam uang kepada orang lain dan lebar mulutnya, dalam hal ini bukan fisik tetapi kelakuan orang tersebut. Kebanyakan dari para monster peminjam uang yang lebar mulutnya adalah ibu-ibu. Ada empat contoh yang mau saya berikan.

========================
Contoh pertama tipe A
========================
Tersebutlah di sebuah perumahan, ada seorang ibu-ibu yang gemar sekali meminjam uang kepada para tetangga, hingga tetangga-tetangga sekitarnya hapal dan males banget jika bersikap terlalu baik dan dekat kepada si ibu itu. Suatu hari, ada satu keluarga yang baru pindah ke lokasi perumahan itu. Berhubung orang baru, keluarga itu pun melakukan kunjungan silaturahmi ke tetangga-tetangga, berbasa-basi, ngobrol, dll. Layaknya lingkungan, nggak di kampung, nggak di perumahan, ada saja gosip2 nggak jelas. Seorang tetangga lama pun bercerita,

“Jeng.. jeng.. jangan terlalu dekat ya sama si ibu A”, kata tetangga sebelah rumah

“Kenapa jeng?”, tanya ibu di keluarga pindahan baru itu

“Ada aja.. nanti jeng akan mengetahuinya sendiri”, jelas si tetangga sebelah rumah itu singkat

Ok, berhubung si ibu orangnya nggak percaya jika belum di kroscek, maka bertemanlah dia dengan si ibu A. Ternyata.. baru ngeh si ibu mengapa tetangga sebelah rumah itu mengatakan jangan terlalu akrab.

Ternyata setiap orang yang lama ataupun baru dikenal pasti si ibu A akan meminjam uang kepada yang bersangkutan. Entah alasannya untuk berobat ke dokter, lupa bawa uang pas ke tukang sayur, dsb Mending kalau dia bayar utangnya tepat waktu, biasanya tipe ibu model A ini bayarnya molor, penuh janji-janji palsu, minjemnya aja semangat, sekalinya ditagih ampun deh alasannya macam-macam. Herannya, dia sama sekali nggak mau dan seolah-olah nggak merasa punya utang. Ketemu dengan si orang yang memberi utang ya cuek aja, gak merasa blass.

Kejelekan dari si ibu tipe A ini adalah, kalau misalnya si ibu keluarga baru ini nggak minjemin uang maka bertebaran gosip lah di antara tetangga, dibilang pelit, kikir, sombong, dsb. Rusak sudah citra si ibu keluarga baru ini di mata tetangga, padahal dia baru pindah. Terlebih lagi kalau misalnya si ibu tipe A ini adalah pejabat penting, misalnya bu RT yang pasti kita punya kepentingan buat ngurus KTP, surat ini itu, dsb. Pasti deh rasanya nggak professional, dilama-lamain, dijutekin, dsb. Padahal cuma masalah nggak dipenjemin uang.

Serba salah kan? Dilema! Dipinjemin.. hati kita yang nggrundel karena utang nggak kunjung dinayar, nggak dipinjemin eh kena fitnah ini itu.

Solusinya, ya mau nggak mau harus tegas! Kalau memang nggak mau minjemin uang, ya nggak usah. Memang sich, lebih mudah nulis begini daripada ngomong dan menghadapi langsung, hehe. Cara kedua adalah, pinjami dia uang tetapi dalam hal ini kita harus melakukan suatu kerja sama dengannya. Misal dia bisa masak, anggap saja uang pinjamannya sebagai jasa catering makanan ke dia selama beberapa hari. Jadinya dia punya tanggung jawab terhadap uang itu. Kalau misalnya dia nggak balikin uang dan melakukan fitnah, kita punya senjata balasan bilang cateringnya nggak enak, kerja sama dengan si ibu A nggak jujur, dsb. Cara ketiga adalah tidak mengakrabkan diri dengan si ibu A tetapi lebih mengakrabkan diri dengan tetangga lain. Dengan begitu, tetangga lain akan lebih mengenal kita daripada denger omongan dan fitnahnya si ibu A.

======================
Contoh kedua tipe B
======================
Ini contoh yang paling saya benci, terjadi nggak pada pria ataupun wanita, tua maupun muda. Kalau katanya papa saya,

“Orang itu kalau dititipi omongan mesti dilebihi, kalau dititipi uang mesti dikurangi”

Tau nggak maksudnya?
Misalnya gini, kamu bercerita kepada temanmu kalau si X pacaran sama si Y. Nah sama temanmu dia bercerita lagi kepada temannya. Padahal kamu bercerita bahwa X pacaran sama Y, titik. Tetapi oleh temanmu diimprovisasi ceritanya, sehingga nampak spektakuler, meriah, bahwa si X dan Y pacaran dan pacarannya backstreet, nggak direstui oleh ortu. Akhirnya apa? Menjadi fitnah kan?

Sedangkan orang kalau misalnya dititipi uang, pasti ketika kita meminta uang itu kembali jumlahnya bisa berkurang. Kok bisa? Lha gak tau.. alasannya ada aja. Ada yang dipinjem dulu, ada yang alasannya hilang, ada yang ini itu, dsb.

Suatu kejadian yang mbencekno contohnya seperti ini. Ada seorang ibu B kepada saudaranya yang mengatakan bahwa uang anaknya dipinjam oleh tetangga seberang rumah, sebesar 12 juta dan belum dibayar oleh si peminjam. Dia bercerita dengan semangat 45, geram, marah, nyumpah2in, wah pokoknya spektakuler lah kalau urusan ngrasani orang. Lalu suatu saat saudaranya bertanya langsung kepada anaknya si ibu B, si korban mengatakan dengan polosnya, bahwa uangnya memang dipinjam tetapi sudah dikembalikan sebagian, yaitu 10 juta. Padahal jarak antara si ibu B bercerita kepada saudaranya dan pengembalian uang cukup jauh, lebih dulu pengembalian uang. Lalu kenapa si ibu B mengatakan uang anaknya belum dikembalikan?

Apa yang terjadi di sini? Mungkin.. si ibu B belum mengetahui kalau uang anaknya sudah dikembalikan, mungkin pula si anak tidak memberitahu. Tetapi jika si ibu B sudah mengetahui dan masih bercerita kepada saudara2nya, tetangga2nya dan menjelek-jelekan orang lain, wah itu yang bahaya.

Padahal uang lho sudah dikembalikan, walau belum semua, ya sudahlah.. ngapain dibahas lagi. Supaya apa? Supaya merasa dibilang tetangga yang punya uang banyak kah sampai masalah utang saja diceritakan kepada orang lain? Atau memang sudah sifat dasarnya yang suka menggosip? Jadi apapun dijadikan bahan pembicaraan, gak peduli itu rahasia anaknya sendiri.

Bersambung…

People Found This Article With Keyword:

cara menghadapi orang yang suka pinjam uang (6), Cara mehadapi tetangga yang suka utang (2), Alasan menghadapi orang yang suka meminjam uang (1), PengalamanPinjamuang (1), orang yang suka meminjamkan uang (1), menghadapi tetangga yang suka menggosip (1), menghadapi tetangga yang gemar hutang tapi tidak membayar (1), menghadapi teman yang suka pinjam duit (1), menghadapi rt yang meminjam uang (1), pinjaman uang hehehehe (1), seseorang yang suka pinjem uang (1), siapa yang mau minjemin aku uang (1), siapa yang mau minjemin aku uang? (1), Sifat orang suka pinjam (1), sifat tetangga suka pinjam uang (1),

Sejarah dan Asal Mula Nama Pedagang Kaki Lima

Ada yg tau nggak sejarah kenapa pedagang yg berjualan di trotoar, di jalanan disebut pedagang kaki lima?

Di suatu perjalanan di hari Minggu pagi, saya dan keluarga melihat banyak sekali pedagang kaki lima di sepanjang jalan Tugu Pahlawan Surabaya, kumpulan pedagang itu seolah-olah menjadikan tempat tersebut ‘Pasar Kaget’, atau pasar yang terbentuk secara tiba-tiba, bukan pasar permanen seperti pasar wonokromo, pasar kapasan, pasar turi, pasar pacar keling, dll.

Tiba-tiba papa saya bertanya,

“Tau nggak kenapa pedagang-pedagang itu disebut pedagang kaki lima?”

Saya dan mama pun mencoba menjawab.

“Ya karena mejanya yang dipakai jualan kan ada 4 buah, terus ditambah yang jualan ada satu kaki (sepasang), jadinya dijumlah ada 5. Makanya namanya kaki lima”, kata mama saya.

“Salah.. bukan itu”, bantah papa.

“Oh, mungkin karena gerobak pedagangnya kakinya ada tiga (roda dua dan satu kaki penahan yang dari kayu biasanya didepan), ditambah dua kaki si penjualnya, makanya namanya kaki lima”, giliran saya yang menjawab.

“Bukan itu juga… Apa? Nyerah?”, kata papa.

Lalu papa pun menjelaskan..

Asal kata kaki lima atau biasa disebut pedagang kaki lima itu berasal dari luar negri. Trotoar di luar negri itu lebarnya 5 feet atau 5 kaki. Ukuran feet atau kaki itu memang ukurannya yang banyak dipakai di luar negri, contoh Amerika, Australia. Kalau di Indonesia kan ukuran bakunya yang sering digunakan adalah Meter.

Nah.. sebutan 5 feet itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akhirnya menjadi “Kaki Lima”. Sehingga pedagang-pedagang yang berjualan di trotoar disebut pedagang kaki lima. Apa benar lebar trotoar di Indonesia itu 5 feet? Silahkan kamu ukur sendiri ya, hehe.

Lucu ya? Tapi itulah sejarahnya…

Untuk lebih jelasnya bisa dibaca di Wikipedia tentang Pedagang Kaki Lima.

Oh ya, satu lagi.

Apa beda Trotoar di Indonesia dengan Trotoar di Luar Negri?

Yup.. trotoar di luar negri dipakai untuk jalan-jalan, sedangkan trotoar di Indonesia dipakai untuk jualan-jualan.

Ya itu, dipakai jualan oleh pedagang kaki lima, atau 5 feet. Hehehe…

Tapi sekarang orang tidak hanya memakai trotoar untuk berjualan, bahkan sampai memakai separuh dari jalan untuk menggelar dagangannya. Sungguh memprihatinkan…

Anyway… selamat hari senin semuanya. Semoga awal minggu ini menyenangkan untukmu ^_^

Koleksi Kaos Game:

Starhawk T-Shirt

Street Fighter IV T-Shirt

Super Street Fighter Logo T-Shirt

The Darkness II T-Shirt

The Last Guardian T-Shirt

Time Crisis Razing Storm T-Shirt

TRON T-Shirt

Two Worlds 2 T-Shirt

UFC Undisputed 2010 T-Shirt

Valkyria Chronicles T-Shirt

Vanquish T-Shirt

White Knight Chronicles T-Shirt

WWE Smackdown T-Shirt

Yakuza 4 T-Shirt

Dark Souls T-Shirt

Dragon Age T-Shirt

Uncharted T-Shirt

People Found This Article With Keyword:

sejarah pedagang kaki lima (284), makalah tentang pedagang kaki lima (93), pengertian pedagang kaki lima (78), makalah pedagang kaki lima (53), jurnal pedagang kaki lima (27), latar belakang pedagang kaki lima (24), definisi pedagang kaki lima (22), asal mula pedagang kaki lima (21), buku tentang pedagang kaki lima (20), asal kata kaki lima (20), asal kata pedagang kaki lima (19), profil pedagang kaki lima (17), sejarah kaki lima (16), artikel pengertian pedagang kaki lima (15), asal usul pedagang kaki lima (15),