Archive of ‘Social Life’ category

‘Pengemis’ Beramplop di ATM dan Mini Market

Postingan ini bukan untuk melukai atau meyinggung siapapun, ini hanya unek-unek semata yang ingin dikeluarkan melalui tulisan. Saya cuma meyoroti orang-orang yang meminta sumbangan dengan cara ‘halus’ yaitu memberikan amplop.

pengemis beramplop

Dua hari lalu, saya dan suami pergi ke mini market dekat rumah karena di dalam mini market itu ada ATM Mandiri. Yaps, saya mau mengambil uang gaji untuk dibelikan kebutuhan bulanan rumah tangga. Dari jauh saya sudah melihat ada seorang pria membaya map berdiri di depan pintu mini market. sewaktu suami saya akan masuk ke mini market itu, si pria itu mengeluarkan amplop dan memberikannya kepada suami saya. Suami saya menolak dan langsung masuk ke mini market.

Saya menyebut pria itu ‘pengemis’ beramplop, kenapa? Karena model meminta sumbangan seperti itu sama saja seperti mengemis kepada orang lain tetapi jauh lebih sopan karena menggunakan amplop dan tidak mengadahkan tangan seperti peminta-minta. Tetapi tetap saja saya menganggapnya pengemis.

Saya nggak suka orang yang bisanya cuma meminta uang kepada orang lain tanpa berusaha bekerja. Sebenarnya dia bekerja sich.. berdiri berjam-jam gak minum, gak pipis cuma untuk membagikan amplop, hehe.. Saya melihat fisik pria itu sehat jasmani, kenapa tidak bekerja saja? Menjadi kuli bangunan masih lebih berharga daripada meminta sumbangan.

Lain halnya yang meminta sumbangan itu cewek seksi nan menawan, pasti amplopnya langsung diambil oleh suami saya dan dikasi uang Rp 100.000 #Keplak!

Ada beberapa orang yang menganggap ‘tugas’ meminta sumbangan untuk pesantrennya atau panti asuhannya itu adalah pekerjaan juga, masuk surga, halal nan mulia. Tetapi tidak dengan pendapat saya!

Selain di mini market, ‘pengemis’ beramplop itu juga biasanya mangkal di dekat ATM. Pintarnya, mereka berakhis setiap awal bulan, terutama tanggal 30, 31, 1 hingga minggu pertama karyawan yang bekerja gajian. Mengapa? Karena banyak orang yang sudah terima gaji, sedang mengambil uang di ATM. Kalau yang di mini market, awal bulan biasanya banyak orang yang ke mini market (seperti indomart, alfamart, alfa midi, dll) untuk belanja bulanan, sehingga pasti mini market ramai dikunjungi. Ini trik pintar atau licik ya?

Jadi secara tidak langsung mereka ‘memaksa’ orang untuk infaq. Padahal kalo memakai amplop itu orang akan minimal ngasi uang kertas, minimal Rp 1000, karena pecahan uang kertas paling kecil sekarang Rp 1000. Coba kalau masih ada pecahan uang Rp 100 rupiah atau Rp 500 uang monyet seperti dulu. Bayangkan saja jika sehari dia dapat minimal 100 orang yang memberi sumbangan, sehari sudah mengantongi Rp 100.000. Padahal gak semua orang ngasi Rp 1000, ada yang ngasi Rp 5000 ada juga yang ngasi Rp 10.000. Kalau ada yang ngasi Rp 50.000 atau Rp 100.000 itu goblok, mending langsung datang ke yayasan atau lembaga amil zakat yang bisa dipercaya semacam rumah zakat atau YDSF.

Pasti kamu sudah pernah mengalami sebelumnya, bagi yang belum tahu pasti akan menerima saja amplop itu. Saya pun sebenarnya agak sebal, pada saat antri di ATM belum apa-apa, uang juga belum diambil eh sudah disodori amplop. Kalau saya sedang baik hati, suasana hati sedang bahagia, dan ada uang lebih, saya biasanya mengambil amplop itu dan memberikan uang setelah saya keluar dari ATM. Tetapi jika lagi kesal dengan ‘pengemis’ beramplop itu, ada dua kemungkinan. Saya tetap mengambil amplop itu dan tidak mengisinya dengan uang, atau kalau lagi terburu-buru ya saya langsung menolak amplop itu. Paling extrem ya tetep ngambil amplopnya dan menulis memo “Lain kali jangan ngemis ya..”, memo tersebut dimasukan ke dalam amplop dan dikembalikan ke orangnya. Hehehe.. kalau cara ke-3 itu terlalu extrem, jangan ditiru ya ๐Ÿ™‚ Kadang setelah menerima amplop itu, trus keluar dari mini market lupa dikembalikan, akhirnya terbawa sampai pulang ke rumah, hehe..

Sebenarnya, daripada mereka ‘mengemis’ seperti itu, ada baiknya mencontoh pesantren-pesantren yang lebih terhormat. Salah satunya pesantren favoritku, istiqomah. Mereka membuka usaha untuk mencari dana bagi pesantrennya, salah satunya adalah usaha jual beli kambing untuk aqiqah. Trus menjual hasil karya handmade anak-anak pesantren sebagai cindera mata bagi donatur, sehingga tidak semata-mata meminta sumbangan dengan kasar. Nggak seperti ‘pengemis’ beramplop itu.

Bahkan di suatu vihara di Blitar, mereka membuat DVD ceramah bhante kemudian bagi donatur yang menyumbangkan dananya, maka DVD itu akan diberikan, sebagai timbal balik dan ucapan terima kasih. Jadi nggak semata-mata meminta kepada umat.

Miris memang, memperburuk citra Islam saja di mata pemeluk agama lain ๐Ÿ™ Atau karena yang meminta sumbangan nggak cantik, kalaupun perempuan pasti pake jilbab, coba kalau yang minta sumbangan perempuan cantik, gak usah seksi cukup cantik aja dan sopan, mirip girlband korea, pasti banyak yang mau ngasi sumbangan. Yang minta bikin mereke enek kali, apalagi gak pake senyum, makanya males..

Kesalahan Fatal Internet Marketer

Tulisan ini mungkin mengundang kontroversi, dari judulnya saja sudah nggilani.

Semenjak kuliah saya sudah mempelajari tentang internet marketing, dari yang nggak tau apa itu afiiliate hingga mendapatkan $200/hari. Hingga sebelum lulus kuliah pun saya bekerja pada salah satu internet marketer asal Surabaya.

Mencari uang di internet ini itu sudah saya pelajari, walaupun nggak sampai level master. Maklum, saya bukan tipe orang yang betah mempelajari sesuatu yang monoton, akibatnya.. ya ilmunya juga ga tuntas.

Tapi pada awal Januari saya memutuskan untuk tidak terlalu fokus pada pelajaran internet marketing. Karena ada sesuatu yang lebih penting, yaitu keluarga.

Berawal dari chatting dengan mantan teman sekantor dulu dan menanyakan gimana kabar kantor, perkembangan bisnis yg dilakukan oleh bos, dll. Ternyata hanya berselang 3 bulan saja semua sudah berubah. Member forum yg tadinya newbie-newbie dan sedikit para master di sana, sekarang sudah ‘diracuni’ oleh master-master dari forum sebelah. Kasihan para newbienya, jadi plonga plongo nggak ngerti, hehe..

Penghasilan para master-master internet marketer Indonesia itu gila-gilaan! Jangan dihitung berapa nol di belakangnya, ngerii… Sampai saya mikir, sebenarnya yang diajarkan oleh bosku dulu adalah part time, yang tidak meninggalkan pekerjaan utamanya sebagai pekerja kantoran atau pebisnis offline. Tapi kalau melihat dari usaha mereka hingga penghasilannya ribuan dollar per bulan, sepertinya mereka bukan pekerja kantoran atau dilakukan benar-benar full time.

Ada sich salah satu master yang saya kenal, dia memang awalnya pebisnis, dia cerdas, lalu kenalan dengan internet marketing bisnis online, tambah kaya raya dia :)) dia bebas melakukan bisnisnya full time, lha wong dia ga kerja aja sudah ga mikir besok makan apa.

Jangan salah.. internet marketer yang sukses di Indonesia yang penghasilannya gila-gilaan banyak lho, tetapi mereka rata-rata tidak ingin berbagi ilmunya, karena takut suatu hari nanti akan dikenai pajak. Oh ya, sampai saat ini sepertinya belum ada ya undang-undang atau aturan pajak yg mengenakan pada pajak penghasilan offline? Oh.. pantas saja orang lebih memilih berbisnis offline daripada online.

Oh ya, darimana kesalahannya?

Sama seperti pebisnis, semakin sukses dia akan semakin sibuk, bukan mempunyai banyak waktu luang lho ya.. Menurutku sih seperi itu. Okelah para internet marketer itu bekerja di rumah, tapi ya masak di rumah terus? Terus tiba-tiba kaya apa orangtuanya, mertuanya, tetangganya, nggak curiga? Darimana dia mendapatkan banyak uang tapi dirumah aja? Sedangkan bisnis saja dia ga punya. Apa melihara babi ngepet? Atau menggelapkan uang nasabah? Atau menipu lewat facebook? Pasti yang diutamakan adalah curiga negatif thinking. Biasalah.. terlebih lagi kalau suaminya yg ga kerja yg jadi internet marketer, terus istrinya yang kerja. Pasti dicap suami malas, yang kerja banting tulang istrinya, karena yang kelihatan tetangga adalah istrinya yang pergi pagi pulang sore. Tetangga-tetangga nggak akan mau mengerti hal seperti itu, namanya juga hidup di Indonesia. Beda dengan orang Amerika sana, mereka kan cuek-cuek, ga percaya sama namanya pelihara tuyul2an, babi ngepet2an, pesugihan, dll.

Makanya.. buat teman-temanku yang cowok, yang mikir untuk resign dari pekerjaannya dan memilih kerja online di rumah, coba pikir lagi dech.. Ada baiknya yang bekerja di rumah online itu istrimu. Kalau istri wajar di rumah, terlebih lagi apabila bisa menghasilkan uang tambahan yang halal, itu adalah nilai plus! Tapi efeknya.. istrimu jarang dandan, gak terlihat cantik dan mempesona, dan cepat tua karena terus berada di rumah dan gaulnya dengan internet saja. Beda dengan istri yang kerja kantoran, yang selalu tampil cantik, wangi, mempesona!

Sekarang dari sudut pandang orangtua dan mertua. Mertua pasti ingin anak gadisnya mendapatkan calon suami yang lulus kuliah dengan tepat waktu, nilai bagus, diterima di perusahaan terkenal walau gaji ga seberapa daripada penghasilan online. Mereka punya nilai plus untuk membanggakan menantunya di depan teman-temannya, tetangganya, kerabatnya, dll. Mereka tidak akan bangga dengan penghasilanmu 100.000 juta dollar per bulan tapi mereka nggak ngerti kamu kerja di mana. Paling-paling yang ngerti tentang pekerjaanmu adalah teman-temanmu di dunia maya, teman-teman sepergaulanmu, dll.

Solusinya.. kamu tetap bekerja di kantor dan menjadi internet marketer secara part time untuk mengumpulkan modal usaha. Lalu dari uang tabunganmu itu kamu wujudkan untuk bisnis offline. Istri/pacarmu kamu ajarin tentang internet marketer. Setelah dia mahir, dia yg menghandle usaha onlinemu. Kamu bisa resign dari pekerjaan kantoran dan fokus pada bisnismu yg kamu bangun dari nol tsb, dari modal bekerja di kantoran dan bisnis online. Dengan begitu semua sama-sama enak. Kamu punya banyak waktu luang untuk keluarga/pacar. Bisa keliling dunia sesuka hati, beli gadget terbaru yang kamu mau, ga pusing mikirin besok makan apa.

Intinya adalah, jangan pernah meninggalkan tugasmu sebagai anak kuliahan yang lulus kuliah dengan nilai bagus. Buat apa punya banyak uang kalau kuliah aja sampe 7 tahun, paling parah ya ga lulus kuliah. Malu sama anakmu kelak.. masa tahun 2000an masih ada yang gak lulus kuliah (kecuali emang dari keluarga yang tidak mampu). Tapi saya yakin, kamu semua mampu kok. Buktinya ngerti bisnis2 online gitu, punya komputer/laptop, bisa langganan internet, punya blackberry, dll.

Tulisan ini untuk teman-temanku yang masih kuliah/kerja yang lahir tahun 1980 ke bawah yang sekarang lagi bergelut dengan bisnis online. Kalo yg lahir 1980 ke atas, sudah uzurr.. percuma dinasehati, sudah bau tanah, terserah mau full time apa engga, EGP. Hehehe..

Have a nice monday..

Monster Peminjam Uang – Bag I

Saya berjanji untuk tidak menggunjing orang lain pada tahun 2011, namun nyatanya membicarakan orang lain atau bergosip tidak bisa ditinggalkan bagi wanita ;p Kali ini saya tidak akan menggosipkan Ariel – Luna – Tary, bukan pula gosip perceraian AA Gym dengan istri pertamanya Teh Ninih, atau gosip yang lagi hot beberapa minggu lalu seperti Irfan Bachdim. Bukan.. bukan itu semua. Saya ingin bercerita tentang kehidupan sosial bertetangga, kali ini bukan menggosipkan yang jelek-jelek, tetapi sebagai bahan cubitan dan renungan semoga kita bisa introspeksi diri.

Saya ingin bercerita tentang orang yang suka sekali meminjam uang kepada orang lain dan lebar mulutnya, dalam hal ini bukan fisik tetapi kelakuan orang tersebut. Kebanyakan dari para monster peminjam uang yang lebar mulutnya adalah ibu-ibu. Ada empat contoh yang mau saya berikan.

========================
Contoh pertama tipe A
========================
Tersebutlah di sebuah perumahan, ada seorang ibu-ibu yang gemar sekali meminjam uang kepada para tetangga, hingga tetangga-tetangga sekitarnya hapal dan males banget jika bersikap terlalu baik dan dekat kepada si ibu itu. Suatu hari, ada satu keluarga yang baru pindah ke lokasi perumahan itu. Berhubung orang baru, keluarga itu pun melakukan kunjungan silaturahmi ke tetangga-tetangga, berbasa-basi, ngobrol, dll. Layaknya lingkungan, nggak di kampung, nggak di perumahan, ada saja gosip2 nggak jelas. Seorang tetangga lama pun bercerita,

“Jeng.. jeng.. jangan terlalu dekat ya sama si ibu A”, kata tetangga sebelah rumah

“Kenapa jeng?”, tanya ibu di keluarga pindahan baru itu

“Ada aja.. nanti jeng akan mengetahuinya sendiri”, jelas si tetangga sebelah rumah itu singkat

Ok, berhubung si ibu orangnya nggak percaya jika belum di kroscek, maka bertemanlah dia dengan si ibu A. Ternyata.. baru ngeh si ibu mengapa tetangga sebelah rumah itu mengatakan jangan terlalu akrab.

Ternyata setiap orang yang lama ataupun baru dikenal pasti si ibu A akan meminjam uang kepada yang bersangkutan. Entah alasannya untuk berobat ke dokter, lupa bawa uang pas ke tukang sayur, dsb Mending kalau dia bayar utangnya tepat waktu, biasanya tipe ibu model A ini bayarnya molor, penuh janji-janji palsu, minjemnya aja semangat, sekalinya ditagih ampun deh alasannya macam-macam. Herannya, dia sama sekali nggak mau dan seolah-olah nggak merasa punya utang. Ketemu dengan si orang yang memberi utang ya cuek aja, gak merasa blass.

Kejelekan dari si ibu tipe A ini adalah, kalau misalnya si ibu keluarga baru ini nggak minjemin uang maka bertebaran gosip lah di antara tetangga, dibilang pelit, kikir, sombong, dsb. Rusak sudah citra si ibu keluarga baru ini di mata tetangga, padahal dia baru pindah. Terlebih lagi kalau misalnya si ibu tipe A ini adalah pejabat penting, misalnya bu RT yang pasti kita punya kepentingan buat ngurus KTP, surat ini itu, dsb. Pasti deh rasanya nggak professional, dilama-lamain, dijutekin, dsb. Padahal cuma masalah nggak dipenjemin uang.

Serba salah kan? Dilema! Dipinjemin.. hati kita yang nggrundel karena utang nggak kunjung dinayar, nggak dipinjemin eh kena fitnah ini itu.

Solusinya, ya mau nggak mau harus tegas! Kalau memang nggak mau minjemin uang, ya nggak usah. Memang sich, lebih mudah nulis begini daripada ngomong dan menghadapi langsung, hehe. Cara kedua adalah, pinjami dia uang tetapi dalam hal ini kita harus melakukan suatu kerja sama dengannya. Misal dia bisa masak, anggap saja uang pinjamannya sebagai jasa catering makanan ke dia selama beberapa hari. Jadinya dia punya tanggung jawab terhadap uang itu. Kalau misalnya dia nggak balikin uang dan melakukan fitnah, kita punya senjata balasan bilang cateringnya nggak enak, kerja sama dengan si ibu A nggak jujur, dsb. Cara ketiga adalah tidak mengakrabkan diri dengan si ibu A tetapi lebih mengakrabkan diri dengan tetangga lain. Dengan begitu, tetangga lain akan lebih mengenal kita daripada denger omongan dan fitnahnya si ibu A.

======================
Contoh kedua tipe B
======================
Ini contoh yang paling saya benci, terjadi nggak pada pria ataupun wanita, tua maupun muda. Kalau katanya papa saya,

“Orang itu kalau dititipi omongan mesti dilebihi, kalau dititipi uang mesti dikurangi”

Tau nggak maksudnya?
Misalnya gini, kamu bercerita kepada temanmu kalau si X pacaran sama si Y. Nah sama temanmu dia bercerita lagi kepada temannya. Padahal kamu bercerita bahwa X pacaran sama Y, titik. Tetapi oleh temanmu diimprovisasi ceritanya, sehingga nampak spektakuler, meriah, bahwa si X dan Y pacaran dan pacarannya backstreet, nggak direstui oleh ortu. Akhirnya apa? Menjadi fitnah kan?

Sedangkan orang kalau misalnya dititipi uang, pasti ketika kita meminta uang itu kembali jumlahnya bisa berkurang. Kok bisa? Lha gak tau.. alasannya ada aja. Ada yang dipinjem dulu, ada yang alasannya hilang, ada yang ini itu, dsb.

Suatu kejadian yang mbencekno contohnya seperti ini. Ada seorang ibu B kepada saudaranya yang mengatakan bahwa uang anaknya dipinjam oleh tetangga seberang rumah, sebesar 12 juta dan belum dibayar oleh si peminjam. Dia bercerita dengan semangat 45, geram, marah, nyumpah2in, wah pokoknya spektakuler lah kalau urusan ngrasani orang. Lalu suatu saat saudaranya bertanya langsung kepada anaknya si ibu B, si korban mengatakan dengan polosnya, bahwa uangnya memang dipinjam tetapi sudah dikembalikan sebagian, yaitu 10 juta. Padahal jarak antara si ibu B bercerita kepada saudaranya dan pengembalian uang cukup jauh, lebih dulu pengembalian uang. Lalu kenapa si ibu B mengatakan uang anaknya belum dikembalikan?

Apa yang terjadi di sini? Mungkin.. si ibu B belum mengetahui kalau uang anaknya sudah dikembalikan, mungkin pula si anak tidak memberitahu. Tetapi jika si ibu B sudah mengetahui dan masih bercerita kepada saudara2nya, tetangga2nya dan menjelek-jelekan orang lain, wah itu yang bahaya.

Padahal uang lho sudah dikembalikan, walau belum semua, ya sudahlah.. ngapain dibahas lagi. Supaya apa? Supaya merasa dibilang tetangga yang punya uang banyak kah sampai masalah utang saja diceritakan kepada orang lain? Atau memang sudah sifat dasarnya yang suka menggosip? Jadi apapun dijadikan bahan pembicaraan, gak peduli itu rahasia anaknya sendiri.

Bersambung…

Sejarah dan Asal Mula Nama Pedagang Kaki Lima

Ada yg tau nggak sejarah kenapa pedagang yg berjualan di trotoar, di jalanan disebut pedagang kaki lima?

Di suatu perjalanan di hari Minggu pagi, saya dan keluarga melihat banyak sekali pedagang kaki lima di sepanjang jalan Tugu Pahlawan Surabaya, kumpulan pedagang itu seolah-olah menjadikan tempat tersebut ‘Pasar Kaget’, atau pasar yang terbentuk secara tiba-tiba, bukan pasar permanen seperti pasar wonokromo, pasar kapasan, pasar turi, pasar pacar keling, dll.

Tiba-tiba papa saya bertanya,

“Tau nggak kenapa pedagang-pedagang itu disebut pedagang kaki lima?”

Saya dan mama pun mencoba menjawab.

“Ya karena mejanya yang dipakai jualan kan ada 4 buah, terus ditambah yang jualan ada satu kaki (sepasang), jadinya dijumlah ada 5. Makanya namanya kaki lima”, kata mama saya.

“Salah.. bukan itu”, bantah papa.

“Oh, mungkin karena gerobak pedagangnya kakinya ada tiga (roda dua dan satu kaki penahan yang dari kayu biasanya didepan), ditambah dua kaki si penjualnya, makanya namanya kaki lima”, giliran saya yang menjawab.

“Bukan itu juga… Apa? Nyerah?”, kata papa.

Lalu papa pun menjelaskan..

Asal kata kaki lima atau biasa disebut pedagang kaki lima itu berasal dari luar negri. Trotoar di luar negri itu lebarnya 5 feet atau 5 kaki. Ukuran feet atau kaki itu memang ukurannya yang banyak dipakai di luar negri, contoh Amerika, Australia. Kalau di Indonesia kan ukuran bakunya yang sering digunakan adalah Meter.

Nah.. sebutan 5 feet itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akhirnya menjadi “Kaki Lima”. Sehingga pedagang-pedagang yang berjualan di trotoar disebut pedagang kaki lima. Apa benar lebar trotoar di Indonesia itu 5 feet? Silahkan kamu ukur sendiri ya, hehe.

Lucu ya? Tapi itulah sejarahnya…

Untuk lebih jelasnya bisa dibaca di Wikipedia tentang Pedagang Kaki Lima.

Oh ya, satu lagi.

Apa beda Trotoar di Indonesia dengan Trotoar di Luar Negri?

Yup.. trotoar di luar negri dipakai untuk jalan-jalan, sedangkan trotoar di Indonesia dipakai untuk jualan-jualan.

Ya itu, dipakai jualan oleh pedagang kaki lima, atau 5 feet. Hehehe…

Tapi sekarang orang tidak hanya memakai trotoar untuk berjualan, bahkan sampai memakai separuh dari jalan untuk menggelar dagangannya. Sungguh memprihatinkan…

Anyway… selamat hari senin semuanya. Semoga awal minggu ini menyenangkan untukmu ^_^

1 2 3 4