Ribetnya Mengurus Double Record E-KTP Bag I

Sebelum menikah, aku tercatat sebagai penduduk di Kab. Sidoarjo. Aku melakukan rekam e-ktp pun di Sidoarjo dan masih ikut masuk ke dalam Kartu Keluarga orangtuaku.

Setelah menikah dan melahirkan, suamiku berencana membuat Kartu Keluarga sendiri dengan menyatukan nama kami berdua dan memasukan nama anak kami ke dalam kartu keluarga. Rujukan alamatnya adalah ke Surabaya.

Pada tahun 2011, aku mengurus sendiri surat pengantar cabut berkas mulai dari RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, hingga ke Dispenduk Sidoarjo. Saat mengajukan pindah ke Surabaya, NIK E-KTP dari Sidoarjo belum keluar, sehingga oleh kecamatan Karangpilang Surabaya dibuatkan NIK Baru. KK dan KTPku pun keluar, tetapi saat itu adalah KTP manual, bukan E-KTP.

Nah, pada tahun 2013 barulah E-KTP selesai dicetak semuanya. E-KTPku di Sidoarjo keluar, padahal statusnya saat itu aku sudah jadi warga Surabaya. Aku memang sengaja tidak mengambil E-KTP Sidoarjo, karena buat apa? Aku tidak butuh KTP Sidoarjo lagi karena sudah pindah.

Pindah dari Surabaya Ke Tangerang

Masalah akhirnya timbul pada saat aku pindah dari Surabaya ke Kota Tangerang. Pada saat mengajukan e-KTP Tangerang, pihak sana tidak bisa mencetaknya karena terjadi double record. Dataku sudah ada dalam database eKTP, satu orang dengan dua NIK berbeda.

Setelah ditelusuri, itu akibat pihak di Surabaya (entah kecamatan atau dispenduk) memberikan NIK baru kepadaku tanpa menggunakan rujukan NIK E-KTP di Sidoarjo. Pihak Surabaya juga beralasan bahwa saat itu NIK E-KTP Sidoarjo belum keluar. Karena tahun 2011 adalah masih masa administrasi sistem lama (manual).

Setelah tahun 2012, semua database yang ada di kabupaten dan kota diangkat ke pusat, barulah ketahuan kalau seseorang atau penduduk tidak boleh memiliki identitas lebih dari satu. Dengan kata lain, data duplikat harus salah satu dihapus.

Seandainya aku mengajukan pindah setelah eKTP keluar (tahun 2013) dan sistem sudah beralih ke sistem terkomputerisasi online, tentunya prosesnya tidak akan serumit ini.

Tapi apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur. Saat itu, tahun 2011 terpaksa pindah ke Surabaya dan membuat KK baru karena butuh untuk proses legalisasi pernikahan, kemudian AJB rumah, dsb.

Kalau sekarang karena sistemnya online dan terkomputerisasi, seharusnya tidak boleh lagi seenaknya memberikan NIK baru. NIK yang sekarang diberikan pada saat pengurusan akte kelahiran, cuma satu dan dipakai seumur hidup. Begitu kurang lebih penjelasan yang aku terima.

Bersambung…

You May Also Like..

6 Comments on Ribetnya Mengurus Double Record E-KTP Bag I

  1. budiono
    15/10/2015 at 10:09 am (1 year ago)

    walah persis yang terjadi dg istriku. sebelum pindah Surabaya dia sudah perekaman e-KTP di Pasuruan, Begitu pindah ke Surabaya tidak bisa cetak e-KTP Surabaya karena terjadi klaim ganda. Akhirnya bisa dibereskan di bagian IT dispenduk Surabaya dengan menelepon langsung bagian IT dispenduk Pasuruan, minta data atas nama istriku dihapus dari sana

    Reply
    • Sundari
      27/11/2015 at 3:17 pm (1 year ago)

      Lho koq enak bs langsung nelpon gitu. Klo aq koq dlempar sana sini y.. ke kecamata-dispenduk-kecamatan lg-dispenduk lg ????

      Reply
      • sidia
        26/04/2016 at 7:55 am (8 months ago)

        kurang lobi itu mas.. dmna mana nelpon butuh pulsa.. hehehe

        Reply
    • nursi
      31/05/2016 at 2:10 pm (6 months ago)

      Apakah bisa jika hanya menelpon? kasus saya sama seperti istri anda.

      Reply
  2. tatakrizna23@gmail.com
    12/04/2016 at 7:07 am (8 months ago)

    lebih parah lagi saya nunggu ktp lebih dari setengah tahun…
    hasilnya tetap nihil,mungkin sekarang ini harus uang yabg berbicara
    giliran ada uang semua selesai……

    Reply
  3. Yassin
    13/04/2016 at 9:13 am (8 months ago)

    Sama…. 🙁
    Saya dpt panggilan ektp pertama di depok saat masih lajang. Seperjalanan saya menikah dan mengurus administrasi pindah ke jakarta timur tapi terbit ktp manual dan nomor jakarta timur (karna saat itu masih tahap awal ektp). Singkat kata saya dan keluarga beli rumah di kab bekasi. Saya pun kembali mengurus administrasi, jadilah ktp manual kembali dg nomor tidak berubah (sudah ada peraturan tidak ganti nomor penduduk). Lalu saya pun menaikkan status ktp ke ektp biar lebih resmi. Apadaya 6 bulan berlalu tanpa kabar dan begitu saya cek langsung lewat kecamatan terdeteksi masalah yg sama. Saat ini solusi dr petugas kecamatan adalah kembali ke dinas kependudukan depok utk meminta copy surat pindah saya yg lama atau meminta semacam surat keterangan telah pindah tapi tujuan pindahnya ke wilayah sekarang bukan seperti riwayat pindah saya lalu.

    Reply

Leave a Reply


*