Jangan Menyerahkan Sertifikat Rumah/Tanah Kalau Pembayaran Belum Lunas

Ini menilik dari pengalaman H. Mandra komedian di sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Saat ini dia lagi berjuang menyelamatkan tanahnya karena sertifikat yang dimilikinya ternyata sudah atas nama orang lain.

Jadi kronologinya seperti ini (saya kutip dari detikHot)

Saat itu, Sonia baru memberikan uang muka sebesar Rp 150 juta, namun Mandra sudah memberikan sertifikat tanah tersebut kepada Sonia. Ternyata oleh sang pembeli sertifikat tanah tersebut dijadikan agunan untuk kredit kepada Bank BCA cabang Subang, Jawa Barat dengan nilai peminjaman Rp 4,2 miliar.

“Kenapa Haji Mandra bisa percaya? Karena Sonia datang berulang kali ke rumahnya Haji Mandra dengan mobil plat polisi. Dia mengaku bekas istri jendral, bawa pengawal juga, bawa sertifikat yang sering ia beli. Mandra pun percaya, Sonia bawa notaris juga. Mandra nggak punya notaris akhirnya percaya dengan notaris Sonia,” paparnya.

Orang cerdas sekarang pun tau kalau sertifikat rumah atau tanah diberikan apabila pembayaran sudah lunas, ada hitam di atas putih, ada bukti dari notaris, dsb. Ini baru dikasi DP 150 juta aja sudah gelap mata dan percaya sama orang lain. Ya nggak salah kalau sertifikatnya disekolahin ke bank atau dipindah namakan. Nggak peduli mau dia pejabat kek, orang terpandang se kampung kek, teman baik, bahkan saudara sendiri! Kalau yang namanya sudah berurusan dengan uang, teman atau saudara bisa menjadi lawan.

Kalau menurut saya, si Mandra mungkin nggak akan menang dengan kasus ini, secara itu sertifikatnya sudah beda nama. Jaman sekarang yang namanya sertifikat ganda atau pemalsuan sertifikat itu bukan hal yang susah dilakukan kok, kalau tau celahnya semua bisa dilakukan. Tapi mudah-mudahan kasus kegoblokan ini tetap memihak kepada kebenaran dan keadilan, dan semoga cepat selesai ya (biasanya sih lama..).

Pengalaman yang sama pun hampir terjadi di keluarga saya. Rumah yang sekiranya mau dijual seharga 1,8 M sampai 2 M itu sudah dapat calon pembelinya. Tetapi si pembeli mau membayarnya secara mencicil, dikasi DP dulu 500 juta dan sisanya dicicil selama 6 bulan. Si penghuni rumah diberi waktu 3 bulan untuk pindah dari rumah itu karena sama dia rumah tersebut mau dihancurkan dan dibuat ruko. Karena memang lokasi rumah itu strategis dan memang cocok dipakai untuk usaha.

Orang waras manapun pasti akan mikir, lha kok enak dia sudah bayarnya nyicil trus ngusir dalam walku 3 bulan, sudah gitu rumahnya mau dihancurin pula. Kecuali kalau pembayaran rumah sudah lunas, terserah mau diapain tuh rumah urusan dia.

Dipikirnya oleh si calon pembeli, yang mau jual rumah itu goblok, jadi hanya dengan dikasi DP saja bisa dia kibulin. Dipikirnya yang punya rumah seperti orang betawi jaman dulu. Oh sorry ya.. walaupun si penjual rumah lagi butuh uang, bukan berarti bisa seenaknya dikibulin seperti itu.

Misalnya belum 6 bulan dan belum lunas trus dia membatalkan transaksi gimana? Rumah sudah terlanjur hancur, dijual kembali ke orang lain kan juga nggak mungkin. Dengan hanya 500 juta bisa apa? Cuma gigit jari.. padahal itu rumah seharga 2M.

Untungnya transaksi dengan calon pembeli rumah batal. Semoga nggak bertemu orang yang seperti itu lagi.

Oh ya, sekedar tips saja kalau mau jual rumah/tanah:

  1. Cari harga pasaran rumah/tanah di sekitar situ.
  2. Apabila lokasi tanah/rumah di daerah situ memang dipakai untuk tempat usaha, jangan percaya kalau ada pembeli yang mengatakan mau membeli tanah/rumah itu sebagai tempat tinggal. Karena dia hanya melakukan trik agar harga jualnya turun dan lebih murah.
  3. Kalau ada calon pembeli rumah/tanah yang menawar jauh dibawah harga pasaran, langsung tolak!
  4. Jangan sekali-kali menyerahkan sertifikat kalau pembayarannya hanya berupa DP, 25% atau 75%, pokoknya harus lunas dulu baru sertifikat diserahkan.
  5. Selalu jual kepada pembeli langsung, tanpa perantara dan bukan broker. Tapi kalau memang butuh uang banget ya terpaksa lewat broker.
  6. Jangan gelap mata dengan uang dan membiarkan rumah/tanah ditempati atau dikelola sebelum pembayaran lunas.
  7. Waspada segala bentuk penipuan, terutama kalau pasang iklan di media online/internet, karena ada Modus penipuan pura-pura ingin membeli rumah dari iklan di tokobagus.
You May Also Like..

    6 Comments on Jangan Menyerahkan Sertifikat Rumah/Tanah Kalau Pembayaran Belum Lunas

    1. ngekngok
      30/04/2013 at 10:11 am (4 years ago)

      Terimakasih banget ini sangat berharga infonya, bener jangan ggelap mata ngelihat duit terus ada yg bener2x serius mau beli cuma kelakuan seenaknya..

      Reply
    2. Apipudin
      14/08/2013 at 2:57 pm (3 years ago)

      terima kasih atas pemberitahuannya.

      Saya sering jengkel sendiri kenapa model seperti ini susah diberantas, bahkan di depan rumah saya menurut informasi ada orang orang yang suka membuat sertifikat palsu dan anehnya kenapa tidak tertangkap pula.

      Reply
    3. yus
      01/11/2014 at 9:37 am (2 years ago)

      betul sekali, harus berhati-hati dalam menjual rumah dan juga membeli rumah. Zaman sekarang segala cara dilakukan untuk mendapatkan keuntungan walau dengan cara haram. Pokoknya kalau menjual rumah harus sudah lunas dulu baru sertifikat diserahkan dengan transaksi melalui notaris/ppat, dan membeli rumah juga harus hati-hati dengan status rumah dengan sertifikat yang bersih tidak dalam sengketa.

      Reply
    4. Henry
      07/06/2016 at 2:03 pm (6 months ago)

      Bukan begitu caranya pak.. kalo dah dp 25 persen.. itu sertifikat sudah harus dipegang notaris yg terpercaya.. buat kesepakatan jual beli. dengan catatan 1 minggu harus ajb di notaris.. kalo tunggu lunas baru sertifikat kasih notaris.. ini pembeli yg keberatan.. gimana kalo pembeli kasih dp 25% ntar pemiliknya kabur.. belum lagi kan mesti ada pengecekan sertifikat di notaris.. ntar dicap sama notaris sesuai dengan catatan di bpn..

      Reply
      • busban
        01/11/2016 at 5:40 pm (1 month ago)

        ngapain dibawa ke notaris kalo cuman mampu bayar 25 % ???? ada duit ada barang

        Reply
      • rno
        13/11/2016 at 7:31 am (4 weeks ago)

        bagaimana kalao si pembeli bayar dp, sertifikat dikasih ke notaris, tetapi notarisnya yg berbuat jahat dan turut memalsukan sertifikatnya

        Reply

    Leave a Reply


    *