Pengalaman Menggunakan Asuransi Pendidikan Bumiputera

Sebenarnya asuransi pendidikan itu penting nggak sih? Apa kekurangan dan kelebihannya. Ini pengalamanku menggunakan asuransi Bumiputera selama hampir 7 tahun.

Awal mula mengenal asuransi pendidikan

Aku mengenal yang namanya asuransi pendidikan dari mamaku. Awalnya mamaku ditawari temannya untuk ikut asuransi pendidikan untuk adikku yang bungsu. Mama bukan orang yang cerdas banget, jadi yang ditangkap mama asuransi pendidikan punya kelebihan proteksi saat orangtua meninggal dan menyelamatkan uang dari kebutuhan yang tidak perlu.

Mama berkali-kali meyakinkan bahwa dengan ikut asuransi, kita dipaksa nabung per bulan, sehingga uang nggak terpakai untuk kebutuhan lain.

Okelah.. Wajar sih mama bilang begitu. Soalnya wanita itu nggak bisa lihat uang lebih dikit, maunya dipakai atau dihabiskan. Nanti giliran anak mau masuk sekolah, bingung cari uang darimana.

Mama hanya mengikutkan adikku yang bungsu karena saat itu adikku masih berusia 3 tahun. Sedangkan aku dan adikku yang lain sudah duduk di bangku SMA, SMP.

Menjadi Nasabah Asuransi Bumiputera

Setelah papa meninggal, mama baru merasakan manfaat asuransi tersebut. Mama mendapatkan santunan, klaim asuransi dan mama juga tidak perlu lagi membayar premi asuransi hingga adikku lulus SMA (saat itu kurang 2 tahun).

Nah, sejak saat itu aku dipaksa terus untuk ikut asuransi Bumiputera oleh mama. Berkali-kali mama bilang, “Asuransi itu yang penting proteksinya.. proteksinya…” Bla.. bla.. bla.. mama bahkan menyuruh untuk mengabaikan ketidaksetujuan suamiku.

Yap, suamiku saat itu nggak setuju ikut asuransi. Ku akui, suamiku itu emang pelit pake banget. Salah satunya karena memang gaji suamiku yang nggak besar sehingga kebutuhan kami harus dihemat sedemikian rupa. Asuransi adalah ‘makanannya’ orang kaya.

Akhirnya aku memutuskan untuk mendaftarkan anak pertamaku yang saat itu berusia 1 tahun. Aku mengambil premi tahunan. Aku menggunakan uangku sendiri, saat itu bisnis onlineku masih bagus dan sedang berjaya.

Dibandingkan asuransi lain, pada saat aku join asuransi Bumiputera aku nggak dapat apa-apa. Maksudku semacam hadiah, welcome gift atau apa gitu. Padahal agen asuransi itu pasti dapat bonus dong ya dari perusahaan kalau bisa dapat nasabah baru. Akhirnya dengan berat hati dia membelikan boneka untuk anakku, yaa.. pura-puranya hadiah gitu.

Berlalunya waktu, aku pun mempelajari kelebihan dan kekurangan asuransi ini. Suamiku masih tidak setuju, karena nabung selama 18 tahun tapi hasil yang dikembalikan tetap. Padahal kalau kita menyimpan uang tersebut dalam deposito atau dalam reksadana, maka hasil yang akan kita dapatkan lebih banyak.

Aku menggerutu saat itu. Duh, sudah nggak ngasi uang buat bayar asuransi, pakai protes lagi.

Aku mendaftar asuransi Bumiputera di kantor cabang Sidoarjo, padahal saat itu aku berdomisili di Tangerang. Sempat kesulitan saat akan membayar premi tahunannya. Agen asuransi hanya menghubungi mamaku setahun sekali untuk mengingatkan kalau sudah waktunya bayar. Hadeh.. giliran mau dapat duit aja baru nongol. Trus kok nggak menghubungi aku langsung sebagai nasabahnya, malah melalui mamaku. Mentang-mentang mamaku itu temannya. Ya weslah, akhirnya aku transfer ke mamaku dan baru deh agen asuransi itu ngambil uangnya. Nggak praktis ya!

Untungkah semenjak 2015 pembayaran premi asuransi bumiputera sudah bisa online. Sehingga aku bisa membayar melalui internet banking bank mandiri.

Proses Penebusan Polis Asuransi Bumiputera

Pengalaman Menggunakan Asuransi Pendidikan Bumiputera

Saat anakku memasukin usia 6 tahun, uang yang aku tabungkan cair. Untungnya anakku masuk SD saat menjelang usia 7 tahun. Apa jadinya kalau masuk SD usia masih 6 tahun dan uang asuransi belum cair?

Karena polis asuransiku masih tercatat di kantor Sidoarjo dan belum aku pindahin ke Tangerang, sehingga ribet kalau harus pergi ke sana. Untungnya ada salah satu agen yang baik mau membantu. Beliau mengirimkan form klaim melalui email dan aku disuruh mengisi. Semua data aku lampirkan melalui email mulai dari scan buku polis asuransi, scan ktp, scan buku tabungan. Beliau yang membantu hingga dananya cair ke rekeningku. Gampang.

Sepertinya tahun depan akan saya pindahkan saja ke Tangerang, karena aku sudah berdomisili di sini.

Dana yang cair cuma 12 juta rupiah, padahal biaya yang dikeluarkan untuk masuk ke SDIT di Tangerang adalah 14 juta. Dikit banget ya hasil dari asuransi, padahal nabung selama 6 tahun. Kalau kita nabung konvensional, di tabungan kita sudah ada 30 juta.

Suamiku yang tadinya cuek bebek akhirnya ikut merasakan manfaatnya. Soalnya dia nggak mengeluarkan uang banyak untuk anaknya masuk sekolah, dan terbantu juga karena ada uang asuransi. Paling-paling dia hanya tinggal mencari kekurangan uang 2 juta saja.

Maaf ya artikelnya kali ini panjang banget. Ya.. namanya juga pengalaman pribadi. Aku nggak dibayar sama asuransi pendidikan Bumiputera untuk ini. Tapi kalau Bumiputera mau ngasi imbalan karena aku sudah menulis review tentang mereka, ya monggo.

Kesimpulan

Asuransi pendidikan itu penting karena proteksinya. Terlebih lagi buat kita yang suaminya cuma karyawan swasta biasa dan kita sebagai ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Jika suami meninggal, anak-anak bisa mendapatkan santunan dan jaminan uang pendidikan. Memang uang asuransi tidak akan cukup jika anak kita masuk ke sekolah swasta yang bagus dan mahal. Tapi kabar baiknya, uang tersebut masih cukup digunakan untuk masuk ke sekolah negri.

Kalau punya anak banyak dan tidak semuanya mau diikutkan asuransi, cukup anak bungsu saja yang diikutkan. Karena ada kemungkinan suami meninggal saat anak bungsu masih bersekolah. Jangan sampai karena pencari nafkah dalam hal ini kepala keluarga tidak ada, maka anak bungsu tidak bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi seperti kakak-kakaknya.

Aku tidak mengikutkan asuransi untuk anak keduaku. Aku juga tidak ikut deposito. Aku cuma menabung konvensional di tabungan yang bebas biaya admin. Tabungan untuk pendidikan anak aku pisah dengan rekening pribadi yang sering keluar masuk uang. Kelebihannya, jika suatu-waktu aku membutuhkan uang cash dan mendadak, aku bisa mengambil di rekening tabungan pendidikan yang aku siapkan tadi.

Karena kondisi keuanganku saat ini tidak begitu baik. Aku belum bisa ‘memaksa’ untuk mengeluarkan uang 1 juta rupiah per bulan untuk membayar premi asuransi untuk dua orang anak.

You May Also Like..

    Leave a Reply


    *